Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Bursa Ketum PBNU 2026 Menghangat, Gus Salam Sebut Ada Ikhtiar Maju

M Adhi Surya • Kamis, 16 April 2026 | 11:24 WIB
Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, Abdussalam Shohib (Jawa Pos/Istimewa)
Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, Abdussalam Shohib (Jawa Pos/Istimewa)

Radar Jember - Menjelang gelaran Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) 2026, suhu politik organisasi keagamaan terbesar di Indonesia itu mulai terasa hangat, terutama dari wilayah Jawa Timur. 

Sejumlah nama mulai diperbincangkan dalam bursa calon Ketua Umum PBNU atau Tanfidziyah.

Dinamika menuju Muktamar NU 2026 tersebut kian menguat seiring dengan persiapan agenda awal berupa Konferensi Besar (Konbes) dan Musyawarah Nasional (Munas) yang dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat. 

Baca Juga: Rais Aam PBNU: Muktamar ke-35 NU pada tanggal 1-5 Agustus

Kedua forum ini dipandang menjadi penentu arah konsolidasi organisasi.

Di tengah situasi itu, nama KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam mulai mencuat sebagai salah satu figur yang menyatakan siap maju dalam bursa Ketua Umum PBNU. 

Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang itu menyebut dirinya tengah berikhtiar untuk mendapatkan dukungan struktural NU.

Baca Juga: Muktamar NU Ke-35 Diperkirakan Juli–Agustus, PBNU Mulai Matangkan Persiapan

“Untuk Tanfidziyah, kebetulan saya sendiri sedang berikhtiar dan berupaya mendapatkan kepercayaan dari struktur PWNU, PCNU untuk bisa berkhidmah atau mengabdi di PBNU pada Muktamar depan,” kata Gus Salam mengutip Jawa Pos Radar Banyuwangi.

Ia menegaskan, langkah tersebut bukan sekadar ambisi pribadi, melainkan dorongan untuk melakukan pembenahan di tubuh organisasi. 

Menurutnya, NU perlu kembali pada marwah awal sebagai organisasi yang mengedepankan persatuan dan kemaslahatan umat.

“Situasi NU atau PBNU saat ini tentu kita tahu semua, cukup memprihatinkan. Setelah terjadinya konflik tajam yang tidak produktif dan menguras energi serta beberapa pengurusnya yang tersangkut kasus hukum, tentu ke depan situasi ini tidak boleh terjadi kembali,” ujarnya.

Ia menambahkan, salah satu agenda penting yang harus didorong adalah rekonsiliasi total di internal organisasi. 

“Tidak ada lagi pecat-pecatan, interest personal yang mendominasi. Kembali merajut Ukhuwwah Nahdliyyah agar ke depan marwah, wibawa dan manfaat NU di hadapan umat kembali dirasakan,” lanjutnya.

Selain itu, Gus Salam juga menyoroti pentingnya figur Rais Aam yang ideal untuk memimpin arah moral organisasi. 

Baca Juga: Siapa yang Lebih Berhak dan Tak Boleh Menerima Zakat? Simak Penjelasan Rais Syuriah PBNU

Ia menilai sosok tersebut harus memiliki kedalaman ilmu, kekuatan basis pesantren, sekaligus kemampuan merangkul seluruh elemen NU.

“Terkait dengan sosok untuk Rais Aam tentu dibutuhkan sosok kiai yang kuat dari sisi basis keilmuan, basis kultural maupun pesantren. Kemudian sosok yang mampu menyejukkan dan mampu mempersatukan pengurus, warga NU untuk kembali kompak,” tandasnya.

Sementara itu, PWNU Jawa Timur menegaskan bahwa seluruh kader memiliki peluang yang sama dalam kontestasi menuju Muktamar NU 2026, tanpa ada perlakuan khusus terhadap nama-nama tertentu yang muncul dalam bursa calon Ketua Umum PBNU. (dhi)

Editor : M ADHI SURYA
#GUS SALAM #pwnu jawa timur #tanfidziyah NU #pbnu #nu