Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Komisi III Kuliti Borok Polri: Dulu Berantas Narkoba, Kini Jadi Bandar!

Maulana RJ • Minggu, 5 April 2026 | 23:53 WIB
Anggota Komisi III DPR RI Fraksi PDI-P, Safaruddin, saat RDPU dengan Lemdiklat Polri,  Kamis (mengkritik kinerja Polri, utamanya, Lem diklat Polri, saat RDPU Komisi III, Kamis (2/04/2026). (Dok. TV Parlemen)
Anggota Komisi III DPR RI Fraksi PDI-P, Safaruddin, saat RDPU dengan Lemdiklat Polri,  Kamis (mengkritik kinerja Polri, utamanya, Lem diklat Polri, saat RDPU Komisi III, Kamis (2/04/2026). (Dok. TV Parlemen)

JAKARTA, Radar Jember - Kritik pedas dan tajam menghujam Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Lemdiklat) Polri dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi III DPR RI, Kamis (2/4/2026). 

Adalah Safaruddin, anggota Fraksi PDI Perjuangan sekaligus mantan Kapolda Kalimantan Timur, yang tak kuasa menahan kegeramannya saat menyoroti kualitas sumber daya manusia di tubuh korps Bhayangkara saat ini.

​Safaruddin mengawali paparannya dengan menyebut bahwa kondisi Lemdiklat Polri saat ini adalah cermin yang jauh dari harapan masyarakat. 

Baca Juga: Buntut Kasus Amsal C. Sitepu, Kawendra Semprot Jaksa dan Inspektorat yang Sebut Ide Cutting sampai Dubbing Nol: Itu Bodoh!

Ia menyinggung banyaknya kasus penyimpangan oknum polisi yang justru berbanding terbalik dengan tugas sucinya.​

"Hampir setiap saat ada saja. Harusnya memberantas narkoba, malah jadi bandar narkoba. Ada juga taruni yang mengalami stroke. Harusnya ini tidak terjadi," tegas Safaruddin dengan nada tinggi.

​Poin paling krusial yang dilemparkan Safaruddin adalah dugaan adanya celah dalam proses rekrutmen. Ia mencurigai bahwa kegagalan Lemdiklat dalam menghasilkan polisi yang sehat secara fisik dan mental bermula dari proses seleksi yang tidak objektif.

​"Berarti rekrutmennya yang salah. Bayar atau titipan? Sehingga Lemdiklat memproses itu tidak memenuhi standar kesehatan," cecarnya. 

Baca Juga: Aktor Intelektual Teror ke Aktivis KontraS tak Tersentuh? DPR: Kami Minta Negara Tanggung Penuh Biaya Pengobatan

Saat melihat ada pihak yang bereaksi ringan, ia langsung menegur keras. "Lho, lho, jangan ketawa Anda! Anda mendidik polisi lho, dan Anda harus bertanggung jawab ketika polisi salah," hardiknya.

​Sebagai mantan perwira tinggi Polri, Safaruddin memahami betul bahwa output seorang polisi sangat bergantung pada proses di "kawah candradimuka" pendidikan. 

Ia mendesak agar Lemdiklat tidak lepas tangan saat lulusannya justru melanggar hukum.

​Kritik ini, menurut Safaruddin, akan menjadi masukan penting dalam Panja Reformasi Polri dan revisi Undang-Undang Kepolisian yang tengah digodok. Ia menekankan bahwa reformasi total harus dilakukan pada dua aspek utama: Anggaran dan Personel.

​"Lembaga pendidikan harus jadi tolak ukur yang betul-betul menjadi landasan ke depan. Anggaran dan personel harus kita benahi, Pak, supaya mereka yang menjadi polisi ke depan menghasilkan output dan outcome yang sesuai dengan harapan masyarakat," tutupnya.

Baca Juga: Kisah di Balik Pelukan Hangat Presiden Prabowo untuk Yatim Prajurit TNI yang Gugur dalam Misi Perdamaian di Lebanon

​Momen ini menjadi pengingat keras bagi institusi Polri bahwa kepercayaan publik hanya bisa diraih jika sistem pendidikan mereka mampu melahirkan personel yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga bersih secara moral dan sehat secara fisik.

Editor : Maulana RJ
#RUU kepolisian #Lemdiklat Polri #bandar narkoba #komisi iii #polri