JAKARTA, Radar Jember - Kritik pedas dan tajam menghujam Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Lemdiklat) Polri dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi III DPR RI, Kamis (2/4/2026).
Adalah Safaruddin, anggota Fraksi PDI Perjuangan sekaligus mantan Kapolda Kalimantan Timur, yang tak kuasa menahan kegeramannya saat menyoroti kualitas sumber daya manusia di tubuh korps Bhayangkara saat ini.
Safaruddin mengawali paparannya dengan menyebut bahwa kondisi Lemdiklat Polri saat ini adalah cermin yang jauh dari harapan masyarakat.
Ia menyinggung banyaknya kasus penyimpangan oknum polisi yang justru berbanding terbalik dengan tugas sucinya.
"Hampir setiap saat ada saja. Harusnya memberantas narkoba, malah jadi bandar narkoba. Ada juga taruni yang mengalami stroke. Harusnya ini tidak terjadi," tegas Safaruddin dengan nada tinggi.
Poin paling krusial yang dilemparkan Safaruddin adalah dugaan adanya celah dalam proses rekrutmen. Ia mencurigai bahwa kegagalan Lemdiklat dalam menghasilkan polisi yang sehat secara fisik dan mental bermula dari proses seleksi yang tidak objektif.
"Berarti rekrutmennya yang salah. Bayar atau titipan? Sehingga Lemdiklat memproses itu tidak memenuhi standar kesehatan," cecarnya.
Saat melihat ada pihak yang bereaksi ringan, ia langsung menegur keras. "Lho, lho, jangan ketawa Anda! Anda mendidik polisi lho, dan Anda harus bertanggung jawab ketika polisi salah," hardiknya.
Sebagai mantan perwira tinggi Polri, Safaruddin memahami betul bahwa output seorang polisi sangat bergantung pada proses di "kawah candradimuka" pendidikan.
Ia mendesak agar Lemdiklat tidak lepas tangan saat lulusannya justru melanggar hukum.
Kritik ini, menurut Safaruddin, akan menjadi masukan penting dalam Panja Reformasi Polri dan revisi Undang-Undang Kepolisian yang tengah digodok. Ia menekankan bahwa reformasi total harus dilakukan pada dua aspek utama: Anggaran dan Personel.
"Lembaga pendidikan harus jadi tolak ukur yang betul-betul menjadi landasan ke depan. Anggaran dan personel harus kita benahi, Pak, supaya mereka yang menjadi polisi ke depan menghasilkan output dan outcome yang sesuai dengan harapan masyarakat," tutupnya.
Momen ini menjadi pengingat keras bagi institusi Polri bahwa kepercayaan publik hanya bisa diraih jika sistem pendidikan mereka mampu melahirkan personel yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga bersih secara moral dan sehat secara fisik.
Editor : Maulana RJ