Radar Jember - Lebih dari sekadar pesta, Imlek adalah simbol awal baru, rezeki lancar, dan hidup lebih seimbang.
Di Tiongkok, perayaan ini dikenal sebagai Chūnjié (Festival Musim Semi). Kata Imlek berasal dari dialek Hokkien (Yin Li), dan justru lebih populer di Indonesia daripada di negara asalnya.
Berbicara Imlek di Indonesia, sejatinya dulu tidak bisa dirayakan secara terbuka.
Ya, pada orde baru, lampion, barongsai, sampai aksara mandarin dilarang tampil di ruang publik. Imlek tetap dirayakan, tapi diam-diam di dalam rumah.
Banyak kelenteng di Indonesia dulu tidak diakui secara resmi, bahkan harus “menyamar” supaya tetap bisa dipakai ibadah. Identitasnya baru diakui penuh setelah era reformasi.
Perlu waktu puluhan tahun sampai akhirnya Imlek diakui negara. Dulu Imlek belum jadi tanggal merah. Baru di era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Imlek diakui secara nasional.
Penetapan Imlek sebagai hari libur nasional di Indonesia disahkan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri melalui Keppres Nomor 19 Tahun 2002.
Penetapannya jadi simbol rekonsiliasi sejarah dan pengakuan identitas warga Tionghoa Indonesia.
Sejak saat itu, Imlek selalu masuk kalender merah, sejajar dengan hari besar nasional dan keagamaan lainnya.
Nggak cuma warga Tionghoa, banyak masyarakat umum ikut ngerayain nonton barongsai, foto lampion, sampai berburu kuliner Imlek.
Di antara banyaknya kuliner khas Imlek ada satu yang makanan yang memiliki cita rasa lokal.
Makanan ini bukan dari Tiongkok, tapi lahir dari percampuran budaya Tionghoa dan Jawa.
Lontong Cap Gomeh cuma ada di Indonesia. Bukti kalau budaya bisa beradaptasi tanpa kehilangan makna.
Biasanya, perayaan Imlek identik dengan lampion merah, barongsai, kumpul keluarga, doa, dan harapan baru.
Banyak juga yang manfaatin libur Imlek buat quality time, staycation, atau sekadar healing tipis-tipis dari rutinitas.
Dengan statusnya sebagai hari libur nasional, Imlek jadi pengingat kalau Indonesia itu rumah bersama tempat semua budaya bisa hidup berdampingan tanpa harus saling menghakimi. (ona/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh