Radar Jember - Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan sejumlah tokoh yang kerap melontarkan kritik keras atau dianggap sebagai "oposisi" berlangsung di kediamannya di Kertanegara, Jakarta Selatan, pada Jumat malam, 30 Januari 2026.
Pertemuan tertutup tersebut berlangsung selama kurang lebih 4,5 hingga 5 jam dalam suasana yang santai dan dinamis.
Presiden Prabowo Subianto dilaporkan menunjukkan kemarahan besar terkait pola penyaluran kredit perbankan pelat merah yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
Baca Juga: Prabowo Klaim Program MBG Telah Serap 1 Juta Tenaga Kerja dan Jangkau 60 Juta Rakyat
Kabar ini mencuat setelah pertemuan tertutup antara Presiden dengan sejumlah tokoh hukum, termasuk mantan Ketua KPK 2011-2015, Abraham Samad, dan mantan Kabareskrim Polri 2008-2009, Susno Duadji, di Kartanegara.
Abraham Samad mengemukakan, dalam pertemuan yang berlangsung selama lima jam tersebut, Presiden Prabowo mengungkapkan kegelisahannya atas data yang menunjukkan bahwa dana perbankan nasional, yang mencapai angka fantastis hingga Rp5.000 triliun, justru lebih banyak mengalir ke korporasi-korporasi raksasa ketimbang menyentuh sektor ekonomi rakyat.
Abraham Samad membeberkan bahwa Presiden secara spesifik menyoroti ketimpangan akses perbankan.
Menurut dia, Prabowo merasa geram karena bank-bank BUMN tersebut dianggap terlalu "nyaman" memberikan kredit triliunan rupiah kepada pengusaha besar atau yang sering diistilahkan sebagai 'naga-naga' oligarki.
"Beliau sangat marah dengan para naga ini. Dana kita, kekayaan kita, justru diputar di lingkaran mereka, bahkan banyak yang dilarikan ke luar negeri," kata Abraham Samad, mengutip pernyataan Presiden, dalam diskusi di kanal podcast Nusantara TV, Jum'at 13 Februari 2026.
Lebih jauh, ia mengemukakan ketegasan Prabowo tidak hanya berhenti pada kritik. Presiden memberikan ultimatum keras kepada para pimpinan bank BUMN.
Baca Juga: SOP Dilanggar! Satgas Ungkap Dapur MBG Jember Tak Simpan Sampel Makanan, Izin Terancam Dicabut!
Jika pola penyaluran kredit tidak segera diubah untuk lebih memihak pada kepentingan nasional dan rakyat kecil, Prabowo menegaskan tidak akan segan-segan merombak total jajaran manajemen.
Presiden mengancam akan mencopot dan mengganti direksi Bank Himbara yang dinilai tidak sejalan dengan visi ekonomi kerakyatan dan justru membiarkan dana negara hanya menjadi alat penguat bagi korporasi yang merugikan negara.
"Kemarahan Presiden juga dipicu oleh dugaan adanya 'serangan balik' dari para oligarki melalui sektor ekonomi," tambah Abraham Samad.
Baca Juga: Susno Duadji Ungkap Luka Lama Cicak-Buaya: Merasa Dikhianati dan Dituduh Hendak Menghancurkan KPK
Susno Duadji menambahkan bahwa Presiden memegang data akurat mengenai bagaimana para pemain besar ini mencoba menciptakan ketidakstabilan ekonomi saat pemerintah mulai menertibkan sektor sumber daya alam.
"Presiden menegaskan, beliau tidak takut dengan tekanan dari pihak mana pun. Jika ada yang bermain-main dengan duit rakyat melalui perbankan, pilihannya hanya satu: berhenti atau diganti," tegas Susno Duadji.
Melalui pertemuan tersebut, Presiden Prabowo ingin memastikan bahwa perbankan nasional harus menjadi motor penggerak ekonomi bagi jutaan rakyat Indonesia, bukan sekadar "kasir" bagi segelintir korporasi raksasa.
Pemerintah kini tengah melakukan evaluasi mendalam terhadap laporan penyaluran kredit di seluruh bank anggota Himbara untuk memastikan tidak ada lagi kebocoran atau monopoli pembiayaan oleh kelompok tertentu.
Editor : M. Ainul Budi