Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Surat Perpisahan Pilu Bocah SD di Ngada NTT Sebelum Berpulang: Mama, Relakan Saya Pergi

Maulana RJ • Kamis, 5 Februari 2026 | 16:41 WIB

Tulisan tangan YBS, bocah laki-laki berusia 10 tahun yang masih duduk di bangku kelas IV SD, ditemukan telah tiada pada Kamis (29/1/2026) siang. (Dok. Polres Ngada)
Tulisan tangan YBS, bocah laki-laki berusia 10 tahun yang masih duduk di bangku kelas IV SD, ditemukan telah tiada pada Kamis (29/1/2026) siang. (Dok. Polres Ngada)

NGADA, Radar Jember - Di balik perbukitan Dusun Sawasina, Desa Nuruwolo, sebuah kisah pilu tersembunyi di balik secarik kertas yang basah oleh air mata. 

YBS, seorang bocah laki-laki berusia 10 tahun yang masih duduk di bangku kelas IV SD, ditemukan telah tiada pada Kamis (29/1/2026) siang.

Kepergiannya bukan sekadar kehilangan satu nyawa, melainkan runtuhnya sebuah harapan kecil yang selama ini bertahan dalam sunyi.

​YBS dikenal sebagai anak yang tak banyak bicara, namun selalu menyapa dengan ramah. 

Ia adalah pejuang kecil yang menembus keterbatasan ekonomi setiap harinya demi bisa duduk di bangku sekolah. Namun, di balik senyum tipisnya, ternyata tersimpan beban yang teramat berat untuk dipikul oleh bahu sekecil itu.

Baca Juga: Ironi Pendidikan Indonesia: Anggaran MBG Melambung, Anak SD di NTT Menyerah kepada Takdir karena Tak Punya Pena

Satu malam sebelum kepergiannya, YBS sempat menginap di rumah ibunya. Dalam kebersamaan yang singkat itu, terselip sebuah permintaan sederhana: ia meminta dibelikan buku dan pensil baru untuk sekolah. 

Sayangnya, kemiskinan seringkali tak kenal kompromi. Sang ibu, dengan berat hati, harus menunda keinginan putranya karena tak memiliki cukup uang.

​Siapa sangka, perpisahan pada pukul 06.00 WITA pagi harinya menjadi pertemuan terakhir mereka. 

Sebelum dilepas kembali ke rumah neneknya yang berusia 80 tahun, sang ibu menitipkan pesan agar YBS rajin bersekolah dan memahami kondisi dapur mereka yang seringkali tak mengepul.

Duka semakin menyayat hati ketika pihak kepolisian menemukan secarik kertas bertuliskan tangan dalam bahasa daerah Ngada di lokasi kejadian. 

Surat tersebut bukan sekadar kata-kata, melainkan jeritan hati seorang anak yang merasa waktunya telah usai.

Baca Juga: 248 KMP Sudah Berdiri di Jember, Tapi Baru 1 yang Siap Jalan! Ini Kata Dinas Koperasi

Dalam surat bertajuk "Kertas Tii Mama Reti" (Surat buat Mama Reti), YBS mengungkapkan pesan perpisahan yang sederhana namun menyayat hati. Dia menulis:

Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti)

Mama Galo Zee (Mama, saya pergi dulu)

Mama molo Ja'o ( Mama, relakan saya pergi)

Galo mata Mae Rita ee Mama (Jangan menangis, Mama)

Mama jao Galo Mata (Mama, saya pergi)

Mae woe Rita ne'e gae ngao ee (Tidak perlu Mama menangis dan mencari atau merindukan saya)

Molo Mama (Selamat tinggal, Mama)

Di akhir tulisan tangan ini ada gambar dengan emoji menangis.

Baca Juga: Rentetan Kisah Pilu Warga Flores - Lembata Sejak Ada Geothermal; Ruang Hidup Dirampas, Dikriminalisasi hingga Hidup dalam Goncangan dan Aroma Belerang

Pihak Polres Ngada melalui Ipda Benediktus E. Pissort mengonfirmasi bahwa tulisan tersebut identik dengan tulisan tangan di buku-buku sekolah korban.

"Kesimpulan ini berdasarkan hasil pencocokan tulisan dengan beberapa buku tulis yang dimiliki korban. Tim penyidik menemukan kesamaan yang jelas antara tulisan di surat dengan tulisan di buku-buku tersebut," jelas Benediktus Pissort.

Tragedi ini menjadi tamparan keras bagi nurani berbagai kalangan, khususnya pemangku kebijakan. 

YBS adalah potret nyata anak-anak di pelosok negeri yang tumbuh tanpa pelukan utuh orang tua. Ayahnya meninggal saat ia masih di dalam kandungan, dan selama ini ia harus meniti hari bersama neneknya yang sudah renta di saat ibunya berjuang menyambung hidup bersama keluarga barunya.

Baca Juga: DPR Janji Wacana Pilkada Lewat DPRD Tak Masuk Prolegnas 2026, Dasco: Kita Fokus Revisi UU Pemilu!

​Kini, Dusun Sawasina diliputi mendung kesedihan. Tidak ada lagi tawa ramah bocah pendiam itu di jalanan desa. Kisah YBS menjadi pengingat pedih bahwa di balik angka-angka statistik kemiskinan, ada jiwa-jiwa kecil yang butuh didengar, butuh dirangkul, dan butuh diyakinkan bahwa masa depan mereka masih ada—bahkan hanya untuk sekadar harga sebuah buku dan pensil.*

Editor : M. Ainul Budi
#bocah kelas 4 SD #bocah ntt bunuh diri #wajah pendidikan #Ironi #Pendidikan #tragedi #Ngada #ntt