RADAR JEMBER - Pasar modal Indonesia mengawali bulan Februari dengan tekanan jual yang masif.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung terperosok ke zona merah pada pembukaan perdagangan Senin pagi, 2 Februari 2026.
IHSG dibuka melemah di level 8.306,16, namun hanya berselang beberapa menit, indeks langsung menukik tajam. Hingga pukul 09.20 WIB, IHSG tercatat anjlok 365,47 poin atau sekitar 4,39% ke posisi 7.964,13.
Bahkan, indeks sempat menyentuh level terendah di 7.904,17.
Pemicu Utama Kejatuhan IHSG
Pelemahan drastis ini dipicu oleh kombinasi sentimen negatif dari dalam dan luar negeri:
Sentimen Internal (Guncangan Regulasi): Pasar merespons negatif pengunduran diri massal sejumlah petinggi Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang diumumkan akhir pekan lalu.
Meskipun pemerintah telah menunjuk pelaksana tugas (Plt), investor tampaknya masih bersikap wait and see.
Rontoknya Saham Berbasis Emas: Sejalan dengan anjloknya harga emas dunia ke level US$4.723, saham-saham emiten tambang emas di RI (seperti MDKA, ANTM, BRMS) terkoreksi tajam mendekati level Auto Reject Bawah (ARB).
Tekanan Jual Asing: Dana asing terpantau masih mengalir keluar (net sell) melanjutkan tren dari pekan sebelumnya.
Pergerakan Bursa Asia dan Global
Kondisi di bursa regional Asia pagi ini cenderung bervariasi dengan kecenderungan melemah:
Nikkei 225 (Jepang): Sempat dibuka menguat, namun bergerak fluktuatif di sekitar level 53.558.
Hang Seng (Hong Kong): Anjlok signifikan sebesar 1,53% ke posisi 26.967.
Kospi (Korea Selatan): Terperosok hingga 0,62%.
Wall Street (Penutupan Jumat): Tiga indeks utama AS (Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq) ditutup kompak melemah setelah pencalonan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed yang dianggap pasar akan membawa kebijakan bunga tinggi lebih lama (hawkish).
Editor : M. Ainul Budi