RADAR JEMBER - Polemik pemekaran Luwu Raya kembali memanas di ruang publik, khususnya media sosial.
Sejumlah unggahan warganet menyoroti sikap Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, di tengah aksi dan dampak kemacetan panjang yang dialami masyarakat Tana Luwu akibat penutupan jalan.
Salah satu unggahan yang ramai dibagikan berasal dari akun Facebook Sulaiman Hasli Tangarang. Dalam unggahannya, ia membandingkan kondisi masyarakat yang harus mengantre berhari-hari di jalan dengan aktivitas Gubernur Sulsel yang terlihat santai makan pizza.
“Pak Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman dengan santainya makan pizza, sedangkan masyarakat yang melintas di Tana Luwu mengantre berkepanjangan berhari-hari. Seperti inikah pemimpin yang andalan Sulsel?” tulisnya.
Unggahan tersebut menuai ribuan reaksi dan ratusan komentar dengan pandangan yang saling bertolak belakang.
Sebagian warganet menilai unggahan itu berlebihan dan menilai tidak ada hubungan langsung antara aktivitas pribadi gubernur dengan aksi penutupan jalan.
“Apa salahnya kalau makan pizza, siapa tahu ada yang ulang tahun pegawainya, baru Pak Gub diajak makan pizza,” tulis akun Ardan M. Prasetya dalam kolom komentar.
Pendapat serupa juga disampaikan akun Citra Arfiah yang menilai kritik tersebut lebih bernuansa emosional.
“Ada juga orang iri makan pizza, terserah beliaulah mau makan apa, sama-sama juga manusia,” tulisnya.
Namun di sisi lain, tidak sedikit warganet yang justru mengkritik aksi penutupan jalan dalam tuntutan pemekaran Luwu Raya. Mereka menilai cara tersebut justru merugikan masyarakat luas.
“Yang salah warga Luwu sendiri kenapa jalan ditutup menyebabkan mengantre berkepanjangan berhari-hari. Belajarki dari waktu pemekaran Sulbar,” komentar akun Aslam Yapim.
Nada kritik yang lebih keras datang dari akun Yusuf Turatea. Ia menyebut pemblokiran jalan sebagai tindakan yang tidak tepat dalam menyampaikan aspirasi pemekaran daerah.
“Kalau mau pisah dibicarakan baik-baik, bukan dengan cara memblokade jalan poros. Itu tindakan orang frustasi, kasi susah orang lain,” tulisnya.
Sementara itu, komentar bernada satire juga muncul dalam perdebatan tersebut. Akun Ardii S menulis,
“Untung saya bukan gubernur, mungkin kalau gubernur saya akan putar musik disco keras-keras sambil minum kopi ditemani pizza.”
Hingga saat ini, tuntutan pemekaran Luwu Raya dan pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Luwu Tengah masih menjadi perdebatan publik. Pemerintah pusat sendiri belum mengambil keputusan apakah tuntutan tersebut akan diterima atau tidak.
Situasi ini menunjukkan bahwa isu pemekaran Luwu Raya tidak hanya menimbulkan dampak di lapangan, tetapi juga memicu polarisasi opini di ruang digital, antara dukungan, kritik terhadap metode perjuangan, hingga sorotan terhadap simbol kepemimpinan daerah.
Editor : M. Ainul Budi