Radar Jember - Banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera memberi duka bagi warga di 3 provinsi terdampak, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Lebih dari sebulan usai bencana yang terjadi pada akhir November 2025 lalu, sejumlah wilayah di Aceh Tengah masih terisolir dan membutuhkan bantuan.
Salah satunya warga Dusun Lelabu, Kampung Mendale, Kebayakan, Aceh Tengah yang tinggal di rumahnya dengan waswas terjadi banjir atau longsor susulan.
Akses darat yang terputus membuat warga kesulitan untuk mendapat bantuan, karena satu-satunya jalan hanya bisa melalui Danau Lut Tawar.
Warga Naik Kapal untuk Keluar dari Dusun
Seorang warga dari Dusun Lelabu menceritakan bahwa saat kejadian banjir dan tanah longsor pada 26 November 2025, air mulai datang dengan deras sekitar pukul 16.00 WIB.
Ia menceritakan, anak-anak dan perempuan keluar lebih dulu dari dusun dengan dijemput oleh kapal pesantren.
“Datang kapal dari Mendale ke sini, jemput anak ke pesantren. Terus lari aku ke sana, nanya mana sopirnya. Saya bilang setelah jemput anak pesantren ini, jemput lagi kami ke sini dua kapal,” ucapnya dalam video yang diunggah oleh akun Instagram @syahru_ozer pada Jumat (2/1/2026).
Menurut pengakuannya, dua kapal datang lagi dan menjemput para perempuan dan anak-anak lainnya pukul 17.00 WIB dan tiba di posko sekitar pukul 21.00 WIB.
“Bapak-bapak nggak ada pergi, mereka di sini. Akhirnya datang air dari atas jam 00.00 WIB dan bapak-bapak ini naik sampan ke Takengon sampainya jam 04.00 WIB, tanpa lampu di tengah danau,” lanjutnya.
Akses Hanya Lewat Danau, Mendayung Sampan hingga 4 Jam
Jalan darat yang menjadi akses ke Dusun Lelabu putus total, membuatnya hanya bisa dijangkau melalui danau.
Warga lainnya menceritakan kengerian saat mendayung sampan untuk mencapai Takengon.
“Ibu-ibu udah duluan kami bawa ke sana naik kapal, naik boat. Bapak-bapaknya tinggal di sini karena nggak muat, terus datang longsor dari kiri kanan, terpaksa dayung perahu dari sini sampai ke Takengon,” ucap warga lainnya.
“Dari jam 12 malam sampai jam 4 subuh, itu kiri-kanan gunung-gunung kayak jatuh. Rasanya kayak gunung itu pecah,” lanjutnya.
“Mungkin kalau malam datangnya, pasti kita korban,” tambahnya.
Sampan yang digunakan saat itu cukup membawa 5 orang dengan satu dayung dan dalam kondisi hujan deras.
Selain momen penyelamatan yang penuh tantangan, perjuangan untuk mendapatkan bantuan pun tak mudah.
Kapal yang dimiliki hanya sampan dengan dayung manual membuat warga juga harus mendayung 4 jam untuk mendapatkan bantuan.
“Harus didayung, nggak ada boat. Harus mendayung 3 sampai 4 jam kalau mau beli minyak makan, telur,” ucap relawan dalam video itu.
Tetap Bertahan di Rumah yang Rusak
Saat ini, warga bertahan di rumah yang rusak pasca diterjang banjir dan longsor.
Dalam video tersebut terlihat seisi rumah telah dipenuhi dengan lumpur yang mengeras.
Warga yang kembali memilih untuk membersihkan rumah dan menempatinya dengan kondisi rusak di beberapa bagian.
“Tinggal tetap di sini kami. Pokoknya terserah sama Allah, kalau ke mana pun kalau mau mati kan mati ya,” tuturnya lirih.
Lebih lanjut, karena tak ada gas, warga memasak menggunakan kayu bakar.
“Nggak ada apa-apa lagi, tinggal yang ada di badan. Ini mulai dibersihin kan sedikit-sedikit, yang penting selamat. Harta masih bisa dicari, cuma nyawa yang terbatas,” tukasnya.