Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Warga Desa Sekumur Aceh Tamiang Curhat ke Istri Mualem, Logistik Aman tapi Alat Ibadah Kurang: Puasa Sebentar Lagi

Imron Hidayatullahh • Senin, 22 Desember 2025 | 02:19 WIB
Warga Desa Sekumur, Aceh Tamiang yang kekurangan tenda layak untuk tempat tinggal pascabanjir. (Instagram/marlinaausman)
Warga Desa Sekumur, Aceh Tamiang yang kekurangan tenda layak untuk tempat tinggal pascabanjir. (Instagram/marlinaausman)

Radar Jember - Sudah hari ke-24 sejak banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang 3 provinsi di Sumatera, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada 27 November 2025 lalu.

Aceh Tamiang menjadi salah satu kabupaten di Aceh yang terdampak paling parah usai banjir pada 17 November 2025.

Dalam unggahan video Marlina Usman, istri Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem, salah satu desa di Aceh Tamiang, yaitu Desa Sekumur masih kesulitan akses.

Akses Hanya Lewat Kapal, Jembatan Putus Total

“Semuanya hancur luluh lantak, tak tersisa apapun yang bisa mereka gunakan untuk membangun lagi rumah mereka,” tulis keterangan dalam unggahan di Instagram @marlinaausman pada Minggu (21/12/2025).

Jembatan yang biasa menjadi penghubung akses ke Sekumur hanyut saat banjir dan membuat aksesnya pun terputus total.

Warga yang ingin mencapai Desa Sekumur harus menyeberangi sungai dengan perahu milik nelayan.

“Akses menuju kampung Sekumur ini harus menggunakan perahu karena jembatan yang biasa mereka gunakan sudah terbawa arus. Dari kota Tamiang, kami menempuh perjalanan 2 jam untuk tiba di sini,” lanjutnya.

Warga Butuh Tenda untuk Posko Pengungsian

Nestapa kehilangan rumah juga dialami oleh warga Desa Sekumur usai banjir dan tanah longsor, sehingga mereka pun harus tinggal di posko pengungsian.

“Dari sungai, jarak tenda yang didirikan oleh swadaya masyarakat sekitar 800 meter dengan jalan yang masih berlumpur. Kini mereka sangat membutuhkan tenda yang layak, penampungan dan penyaringan air bersih, genset dan lampu penerangan serta perlengkapan sarana ibadah,” terang Marlina.

“Semua rumah di sini lenyap, hanya menggunakan terpal, warga di sini bahu-membahu mendirikan tempat tinggal sementara,” imbuhnya.

Menurut informasi tambahan yang diunggah Marlina Usman, ada sekitar 260 kepala keluarga dengan total sekitar 1.200 jiwa.

Bantuan Logistik Aman, Butuh Perlengkapan Sekolah dan Ibadah

Salah satu warga mengatakan bahwa bantuan logistik cukup aman untuk kebutuhan sehari-hari, hanya peralatan ibadah yang masih kekurangan.

“Alhamdulillah ada donasi masyarakat, dari luar sana ada bantuan. Misal sembako, Alhamdulillah udah aman,” kata salah satu warga setempat

“Yang jelas, yang tercepat alat sarana ibadah, Bu. Kebetulan puasa udah nggak lama lagi, selain itu akses jalan, Bu,” lanjutnya.

Selain alat ibadah, seorang anak yang diajak berbincang dengan Marlina Usman meminta perlengkapan untuk sekolah.

“Minta sepatu sama baju sekolah terus peralatan sekolah. Itu juga sama Alquran karena pada hanyut,” ungkapnya.

Belum Ada Alat Berat untuk Bersihkan Puing Kayu

Banjir yang datang tak hanya membawa air, tetapi juga potongan kayu dengan beragam ukuran.

“Coba lihat ini, darimana ini dimulai, udah 22 hari belum ada apa-apa. Satu beko (alat berat) pun nggak ada,” ujar Marlina Usman.

“Tidak ada satu pun rumah warga yang tersisa, semua dihantam kayu-kayu yang terbawa oleh derasnya arus air,” sambungnya.

Video kurang dari 2 menit itu juga menunjukkan hamparan kayu yang digunakan oleh warga untuk menjadi akses jalan.

Editor : Imron Hidayatullahh
#bencana aceh sumbar sumut #Aceh Tamiang Bangkit #Pascabencana Sumatera