Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

'Saya Kira Itu Hari Terakhir Hidup!'—Bocah di Aceh Ceritakan Detik-Detik Bertahan dari Amukan Banjir Bandang

Imron Hidayatullahh • Rabu, 10 Desember 2025 | 21:46 WIB
Tangkapan layar seorang bocah saat mengenang detik-detik bencana hingga mengira itu adalah hari terakhir hidupnya.
Tangkapan layar seorang bocah saat mengenang detik-detik bencana hingga mengira itu adalah hari terakhir hidupnya.

 

Radar Jember - Bencana banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Aceh tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga luka mendalam pada ingatan para penyintas, terutama anak-anak.

Di antara puing-puing dan lumpur sisa banjir, seorang bocah kecil berani berbagi kisah traumatisnya.

Ia menceritakan detik-detik mengerikan ketika ia merasa berada di batas antara hidup dan mati.

Kisah bocah yang tidak disebutkan namanya ini terekam dan dibagikan oleh akun Instagram @ddtvofficial pada Minggu (7/12/2025), menjadi cerminan kepolosan yang harus menghadapi amukan alam.

Berdiri di atas gundukan lumpur yang kini menjadi saksi bisu, ia bercerita dengan mata yang memancarkan ketakutan yang belum hilang.

Ia menggambarkan banjir hari itu seolah menjadi akhir dari segalanya.

"Ya Allah ini hari apa? Apakah hari terakhir saya hidup?" kata bocah itu polos, suaranya terdengar lirih di tengah jejak-jejak bencana.

Pengalaman itu begitu membekas hingga ia mengira peristiwa itu adalah penanda hari akhir.

"Saya takut pada hari itu, saya pikir besok ini hari kiamat," lanjutnya.

Dampak psikologisnya terasa nyata, bahkan suara hujan kini membangkitkan kecemasan.

"Lihat hujan saja sudah takut," imbuhnya.

Detik-Detik Penyelamatan

Bocah itu mengenang bagaimana ia berjuang menyelamatkan diri saat air mulai naik dengan cepat.

Ia sedang berada di warung, tempat yang secara tidak terduga menjadi benteng pertamanya.

"Sebelum airnya naik, saya pergi ke warung yang bertingkat," tuturnya.

Warung yang memiliki bangunan bertingkat itu menjadi satu-satunya tempat ia bisa mencari ketinggian.

"Di situ airnya naik, naik, naik. Habis itu ada tingkat, saya naik ke atas," sambungnya.

Tindakan refleksif itu menyelamatkan nyawanya.

Tidak lama kemudian, kedua orang tuanya menyusul.

Namun, perjuangan belum usai. Saat berusaha menyelamatkan diri sepenuhnya, bocah itu sempat tergelincir.

"Habis itu datang mama dan ayah saya," terang anak itu.

Ia kemudian menceritakan momen kritis yang nyaris merenggutnya.

"Saya jatuh, terus ditemukan, terus dipegang kaki saya sebelum dibawa air," katanya, memberikan gambaran jelas betapa dekatnya ia dengan bahaya.

Meskipun harus melalui pengalaman yang begitu berat, bocah tersebut menutup kisahnya dengan doa sederhana penuh harapan, mendoakan keselamatan dan rezeki bagi orang-orang di sekitarnya.

"Semoga keluarga yang ada di sini sehat selalu, mudah rezekinya selalu," pungkasnya.

Editor : Imron Hidayatullahh
#Penyintas Banjir Bandang #Banjir Bandang dan Longsor #bencana aceh sumbar sumut #banjir bandang Aceh Sumbar Sumut #bencana Sumatera