IJEN, Radar Jember - Dewan Penasihat Petani Ijen Berdaulat (PIB), Zakaria Muchtar, menyerukan agar masyarakat Ijen menjadikan kelestarian alam sebagai bentuk pengamalan ajaran agama.
Ia menegaskan, menjaga tanaman dan tidak melakukan kerusakan terhadap bumi bukan sekadar kewajiban sosial, tetapi merupakan perintah langsung dalam Al-Qur’an.
Seruan itu disampaikan menanggapi fenomena pengrusakan tanaman kopi milik PTPN oleh orang tak dikenal di kawasan Ijen.
Menurutnya, tindakan yang merusak alam atau menimbulkan kekacauan sosial tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun.
“Islam mengajarkan keseimbangan dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Allah melarang kita membuat kerusakan di muka bumi, sebagaimana termaktub dalam surat Al-A’raf,” ujarnya.
Ia menilai, fenomena yang terjadi di Ijen bukan hanya persoalan lokal, melainkan cerminan krisis nilai dalam berkehidupan sosial.
Zakaria juga menyoroti pentingnya musyawarah dalam menyelesaikan konflik internal masyarakat. Ia mengingatkan bahwa setiap persoalan harus ditempuh melalui jalan dialog dan kebersamaan, bukan tindakan anarkis.
“Kita punya forum, ada forkopimda, tempat menyampaikan aspirasi dan keinginan dengan cara baik. Jangan sampai karena emosi, malah merusak nama baik masyarakat Ijen sendiri,” katanya.
Lebih jauh, ia mengajak seluruh warga untuk bersama-sama menjaga kawasan Ijen yang sebagian besar merupakan wilayah hutan lindung.
Tindakan merusak alam, kata dia, hanya akan menimbulkan bencana di kemudian hari. “Ijen rawan bencana, jadi mari kita rawat hutan dan tanaman yang menjadi sumber kehidupan kita semua,” tegasnya.
Zakaria menutup pesannya dengan refleksi spiritual. Ia menyebut bahwa rahmat Allah akan turun kepada mereka yang menjaga dan memelihara kebaikan.
Sebaliknya, mereka yang melakukan kerusakan akan menuai akibat buruk. “Kita tidak bisa berharap kesejahteraan jika yang kita lakukan justru menentang kehendak Tuhan,” katanya.
Sinergi untuk Kondusifitas dan Keamanan
Kapolsek Ijen, Iptu Suherdi, memastikan bahwa pihak kepolisian bersama unsur TNI dan pemerintah kecamatan terus meningkatkan patroli di wilayah Ijen pasca insiden pengrusakan tanaman kopi PTPN.
Langkah tersebut dilakukan guna mencegah potensi konflik dan menjaga stabilitas keamanan di kawasan yang dikenal sebagai salah satu sentra kopi Arabika terbaik di Indonesia itu.
Menurut Iptu Suherdi, sinergi antara Polsek Sempol, Koramil, pihak PTPN I Regional 5, dan PTPN UV Regional 3 menjadi kunci menjaga situasi tetap kondusif.
“Kami melakukan patroli gabungan, tidak hanya untuk mengantisipasi kriminalitas, tetapi juga sebagai bentuk kehadiran negara di tengah masyarakat,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa keamanan merupakan prasyarat utama bagi pembangunan sosial dan ekonomi di Ijen.
Selain langkah keamanan, kepolisian juga aktif melakukan pendekatan persuasif. Pihaknya terus memberikan imbauan kepada masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang bisa memecah belah.
“Kami berharap masyarakat ikut berperan menjaga kondusifitas. Kalau Ijen aman, maka masyarakat bisa bekerja dengan tenang, ekonomi tumbuh, dan kesejahteraan meningkat,” ujarnya.
Iptu Suherdi menilai bahwa konflik sosial sering kali berawal dari kesalahpahaman dan komunikasi yang terputus antarwarga maupun antara warga dan perusahaan.
Oleh karena itu, peran tokoh agama, pemuda, dan masyarakat adat dinilai sangat penting dalam membangun jembatan dialog. “Polisi tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi semua pihak menjadi solusi agar tidak ada lagi tindakan anarkis,” tegasnya.
Ia berharap situasi di Ijen segera pulih dan kembali normal. Menurutnya, kawasan yang menjadi kebanggaan Bondowoso itu semestinya menjadi contoh harmoni antara manusia dan alam. “Mari kita jadikan Ijen ini daerah yang aman, indah, dan sejahtera. Karena hanya dengan kebersamaan, kita bisa menjaga masa depan Ijen,” pungkasnya.
Investasi Kopi Ijen Dorong Kesejahteraan Ribuan Pekerja
kerja sama operasional (KSO) Arabica Coffee Estate di kawasan Ijen mendapat dukungan penuh dari Serikat Pekerja Perkebunan Nusantara (SP-BUN).
Thomas Evaluanto Nugroho, pengurus pleno SP-BUN dari kantor pusat, menegaskan bahwa program tanam perdana ini merupakan bentuk investasi berkelanjutan yang tidak hanya menguntungkan perusahaan, tetapi juga masyarakat sekitar.
Thomas mengungkapkan, proyek ini melibatkan sekitar 3.000 pekerja dari dalam kebun dan masyarakat Ijen. Mereka berpartisipasi dalam seluruh tahapan, mulai dari pengelolaan, perawatan, hingga panen. “Kami ingin memastikan masyarakat ikut tumbuh bersama perusahaan. Ketika investasi berjalan, kesejahteraan pekerja pun meningkat,” katanya.
Ia menjelaskan, total area kebun yang dikelola mencapai sekitar 8.000 hektare, terdiri dari 3.500 hektare di wilayah Jampit dan 4.700 hektare di Blawan.
Dari total itu, sekitar 293,57 hektare menjadi area tanam perdana dalam program MKSO Arabica Coffee Estate. “Ini langkah awal untuk memperkuat produksi kopi Arabika yang menjadi kebanggaan Bondowoso,” ujarnya.
Bagi SP-BUN, investasi berkelanjutan seperti ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat dapat menciptakan ekosistem ekonomi yang sehat.
Thomas menilai, penguatan usaha di sektor kopi juga akan memberikan multiplier effect terhadap sektor lain, seperti perdagangan lokal dan pariwisata. “Kopi bukan sekadar komoditas, tapi penggerak ekonomi rakyat,” tuturnya.
Ia optimistis, jika konsistensi dalam pengelolaan dan kemitraan terus dijaga, kawasan Ijen akan menjadi model keberhasilan ekonomi hijau berbasis kearifan lokal.
“Kami ingin menjadikan Ijen bukan hanya penghasil kopi terbaik, tapi juga contoh kawasan yang tumbuh karena kolaborasi dan komitmen bersama,” tandasnya.
Kolaborasi PTPN Dorong Produktivitas dan Ekonomi Daerah
SEVP Operation PTPN I Regional 5, Asep Sontani, menegaskan bahwa kolaborasi antara PTPN I Regional 5 dan PTPN IV Regional 3 dalam proyek pengelolaan lahan di kawasan Ijen merupakan langkah strategis dalam meningkatkan kinerja perusahaan dan ekonomi daerah.
Menurutnya, kerja sama ini bukan hanya soal produksi kopi, tetapi juga penguatan kualitas dan tata kelola bisnis berkelanjutan.
“Kolaborasi ini menyatukan kekuatan on farm dan off farm. Dari sisi pengelolaan kebun hingga pemasaran, kami memastikan seluruh rantai nilai berjalan lebih efisien dan profesional,” ujarnya.
Asep menjelaskan, kopi menjadi komoditas prioritas di Jawa Timur, sejajar dengan karet, dan memiliki potensi besar untuk ekspor.
Ia juga menyoroti pentingnya dukungan dari berbagai pihak, termasuk lembaga penelitian pertanian dan dinas terkait. Dengan adanya kolaborasi lintas sektor, kata dia, inovasi dalam budidaya, pengolahan, dan pemasaran kopi dapat terus berkembang.
“Kami ingin semua pihak mendapatkan manfaat: perusahaan, masyarakat, dan pemerintah daerah,” ujarnya.
Menurut Asep, strategi kolaboratif ini juga diarahkan untuk mendorong kesejahteraan masyarakat sekitar perkebunan. Ia berharap, kehadiran investasi besar tidak hanya meningkatkan produktivitas lahan, tetapi juga membuka lapangan kerja baru dan menggerakkan ekonomi lokal.
“Masyarakat sekitar harus menjadi bagian dari proses ini, bukan sekadar penonton,” katanya.
Dengan pendekatan yang menyeluruh, PTPN I Regional 5 dan PTPN IV Regional 3 menargetkan Ijen menjadi kawasan unggulan kopi Arabika di Indonesia.
“Kami ingin menjadikan Ijen sebagai ikon kolaborasi dan kesejahteraan. Keberhasilan kopi Ijen nantinya adalah keberhasilan masyarakat Bondowoso,” pungkasnya. (faq)
Editor : M. Ainul Budi