Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Benarkah Sri Susuhunan Pakubuwono XIII Wafat, Sang Penjaga Harmoni Keraton Surakarta? Cek Faktanya Ini

Redaksi Radar Jember • Selasa, 4 November 2025 | 02:15 WIB
Sri Susuhan Pakubuwono. (Pinterest).
Sri Susuhan Pakubuwono. (Pinterest).

RADAR JEMBER - Kabar duka datang dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Sri Susuhunan Pakubuwono (PB) XIII Hangabehi meninggal dunia pada Minggu (2/11/2025) pagi di usia 77 tahun, setelah menjalani perawatan di rumah sakit sejak 20 September lalu.

Kabar berpulangnya sang raja menjadi kehilangan besar, bukan hanya bagi keluarga besar keraton, tetapi juga masyarakat Solo dan pewaris budaya Jawa di seluruh Nusantara.

Putra Sulung PB XII, Tumbuh di Pusaran Tradisi Mataram

Lahir di Kota Solo pada 28 Juni 1948, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Hangabehi dibesarkan di lingkungan yang sarat nilai-nilai kebangsawanan dan tradisi Jawa.

Sebagai putra sulung PB XII, sejak kecil ia sudah akrab dengan dunia keraton tempat adat, spiritualitas, dan budaya berpadu dalam keseharian.

Namun, jalan menuju takhta yang tampak terbuka untuknya justru berliku. Wafatnya Pakubuwono XII pada 11 Juni 2004 memicu badai suksesi di Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Dengan enam istri dan 35 anak, garis keturunan PB XII begitu luas dan kompleks.

Dua nama mencuat sebagai calon penerus: KGPH Hangabehi dan adiknya, KGPH Tedjowulan.

Badai Suksesi dan Perpecahan Keraton

Forum keluarga besar Mataram melalui Forum Komunikasi Putra Putri (FKPP) PB XII, pada 10 Juli 2004, menetapkan Hangabehi sebagai penerus sah takhta. Rencana penobatan dijadwalkan 10 September 2004.

Namun, sebelum itu terlaksana, kubu lain menobatkan Tedjowulan sebagai raja pada 31 Agustus 2004 di Sasana Pumama, Solo.

Perselisihan pun memanas hingga bentrok pecah di kompleks keraton pada awal September 2004.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah panjang Kasunanan, dinding istana menjadi saksi perkelahian antarketurunan darah biru. Beberapa abdi dalem terluka, dan dualisme kepemimpinan resmi membelah Keraton Surakarta.

Meski demikian, Hangabehi tetap melanjutkan penobatan pada 10 September 2004 di Bangsal Manguntur Tangkil, Sitihinggil Lor.

Upacara berlangsung khidmat dengan dukungan para bangsawan, cucu-cucu PB XII, serta utusan kerajaan dari berbagai daerah.

Kehadiran tiga sesepuh keraton meneguhkan keabsahannya sebagai Sri Susuhunan Pakubuwono XIII.

Membangun Ulang Martabat Keraton

Mewarisi keraton yang terbelah, PB XIII menghadapi ujian besar. Ia berjuang memulihkan martabat dan keutuhan Kasunanan Surakarta, di tengah tekanan publik dan politik internal.

Namun di balik tantangan itu, PB XIII tetap konsisten menjaga api tradisi Mataram. Upacara adat, seni tari klasik, dan pembinaan abdi dalem terus berjalan di bawah kepemimpinannya.

Salah satu momentum bersejarah terjadi pada Juli 2009, saat digelar upacara jumenengan untuk menandai masa kepemimpinannya. Tari Bedhaya Ketawang, tarian sakral yang hanya ditampilkan untuk raja berdaulat, kembali dipentaskan.

Yang menarik, Tedjowulan, yang sebelumnya berselisih, hadir dalam upacara tersebut — sebuah isyarat awal menuju rekonsiliasi.

Perdamaian dan Pemulihan Wibawa Keraton

Upaya rekonsiliasi akhirnya benar-benar terwujud pada 2012.

Melalui mediasi DPR RI, Pemerintah Kota Surakarta di bawah kepemimpinan Joko Widodo, serta keluarga besar keraton, kedua pihak mencapai kesepakatan damai.

Tedjowulan mengakui Hangabehi sebagai PB XIII yang sah dan menerima gelar Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Panembahan Agung, sekaligus dipercaya menjabat Mahapatih.

Kesepakatan itu menandai berakhirnya konflik berkepanjangan dan membuka babak baru bagi pemulihan wibawa Keraton Surakarta Hadiningrat.

Dikenang Sebagai Raja yang Welas Asih

Di bawah kepemimpinan PB XIII, keraton kembali tegak sebagai pusat kebudayaan Jawa. Ia dikenal sederhana, welas asih, dan berusaha merangkul semua pihak — perpaduan antara keteguhan seorang raja dan kelembutan penjaga warisan leluhur.

Wafatnya Sri Susuhunan Pakubuwono XIII Hangabehi menjadi kehilangan besar bagi trah Mataram dan masyarakat Solo. Dua dekade kepemimpinannya dikenang sebagai masa kebangkitan keraton dari perpecahan menuju persatuan.

Lebih dari sekadar raja, PB XIII meninggalkan teladan tentang makna ngayomi, melindungi, mempersatukan, dan menjaga harmoni. Warisan yang ia tinggalkan bukan hanya istana yang berdiri megah, melainkan semangat untuk menjaga martabat budaya Jawa di tengah arus zaman.

Penulis : Ahmad Hendi Apriliyanto

Editor : M. Ainul Budi
#mahapatih #PB XIII #mataram #upacara adat #Sri Susuhunan Pakubuwono XIII #Keraton #joko widodo #dpr ri #wafat