Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Gonjang Ganjing: Bahlil Lahadalia Bantah Isu Etanol Merusak Mesin, Sebut Ada Kepentingan di Balik Isu Negatif

Redaksi Radar Jember • Minggu, 2 November 2025 | 20:07 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia melakukan sidak ke SPBU di Malang setelah ramai keluhan motor ‘brebet’ usai isi pertalite. (Dok ESDM)
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia melakukan sidak ke SPBU di Malang setelah ramai keluhan motor ‘brebet’ usai isi pertalite. (Dok ESDM)

Radar Jember - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa penggunaan etanol sebagai campuran bahan bakar minyak (BBM) tidak menimbulkan kerusakan pada mesin kendaraan.

Ia menilai, isu yang menyebut sebaliknya berasal dari kelompok yang merasa dirugikan oleh kebijakan transisi energi pemerintah.

Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil saat memberikan kuliah umum dalam acara Pembukaan Tanwir XXXIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (29/10/2025).

Dalam kesempatan itu, Bahlil menjelaskan bahwa pemerintah tengah mendorong penggunaan bahan bakar E10, yaitu bensin dengan campuran 10 persen etanol.

Campuran ini, kata dia, merupakan bagian dari upaya menekan emisi karbon sekaligus mengembangkan energi ramah lingkungan.

“Etanol ini berasal dari tebu, jagung, dan singkong. Tujuannya untuk mencampur bensin agar emisi turun. Ini energi yang bersih,” jelasnya.

Bahlil juga membantah keras berbagai tudingan negatif yang menyebut dirinya menyebarkan informasi palsu terkait kebijakan tersebut.

Ia menilai, pihak yang menyebarkan tudingan itu adalah mereka yang tidak ingin kehilangan keuntungan dari impor bahan bakar.

“Yang menyebut pernyataan saya hoaks itu adalah orang-orang yang tidak ingin kuota impornya dikurangi. Mereka tidak ingin Indonesia berdaulat energi,” tegas Bahlil.

Lebih lanjut, Bahlil menuturkan bahwa penggunaan etanol bukan hal baru dan sudah menjadi kebijakan wajib di banyak negara.

“Amerika sudah menerapkan mandatori E20, Brasil dan India juga sudah lama menjalankannya. Bahkan Thailand sudah memiliki kebijakan B20,” paparnya.

Ia menjelaskan, penerapan etanol akan berdampak langsung pada berkurangnya impor bensin yang selama ini menjadi sumber keuntungan para importir.

Setiap tahun, nilai impor energi Indonesia mencapai sekitar Rp520 triliun. Karena itu, menurutnya, sebagian pihak merasa terancam oleh langkah pemerintah yang ingin mengurangi ketergantungan impor tersebut.

“Kalau impor kita kurangi, tentu ruang kerja importir juga menyempit. Itu sebabnya mereka tidak ingin kebijakan ini berjalan,” katanya.

Sebagai mantan aktivis, Bahlil mengaku siap menghadapi kritik publik atas kebijakan energi bersih ini. Ia bahkan menantang mahasiswa untuk menggelar forum terbuka guna membahas manfaat etanol secara ilmiah.

“Silakan Mahasiswa Cipayung Plus bikin diskusi. Saya siap datang dan berdebat dari jam tujuh pagi sampai tujuh pagi lagi, asalkan semua punya data,” ucapnya.

Bahlil menegaskan, kebijakan pengembangan etanol merupakan bagian dari program hilirisasi dan transisi energi nasional yang digagas Presiden Prabowo Subianto untuk mencapai kedaulatan energi Indonesia.

“Demi kedaulatan ibu pertiwi, saya tidak akan mundur sejengkal pun menghadapi tantangan ini,” tutupnya.

 


Penulis: Athok Ainurridho

Editor : M. Ainul Budi
#esdm #etanol #pertamina #imm #malang #spbu #Pertalite #Mesin #bahlil lahadalia