Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Populasi LGBT di Bekasi Melonjak lebih dari 1000 Persen, Benarkah LGBT Menular?

Yulio Faruq Akhmadi • Selasa, 28 Oktober 2025 | 05:43 WIB

Aksi demontrasi yang dilakukan pro LGBT
Aksi demontrasi yang dilakukan pro LGBT

RADAR JEMBER – Isu LGBT semakin mengemuka di berbagai daerah, salah satu daerah yang salah satu daerah yang disebut-sebut mengalami peningkatan populasi LGBT adalah Kota Bekasi.

Dalam sebuah wawancara denagn sejumlah media, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bekasi Saifuddin Siroj menyebut terjadi lonjakan dramatis kasus LGBT dalam kurun waktu singkat.

Namun, data yang beredar masih bersifat sementara dan belum resmi tervalidasi.

Dia mengungkap bahwa dari data awal lembaganya, jumlah kasus LGBT di Bekasi meningkat dari sekitar 544 pada 2023 menjadi “lebih dari 5.600” pada 2024.

“Kami juga terkejut, kenapa jumlahnya bisa mencapai lebih dari enam ribu,” papar Saifuddin dalam wawancara dengan media.

Saifuddin menambahkan bahwa angka ini bila benar-benar tervalidasi akan menunjukkan kenaikan lebih dari seribu persen dalam satu tahun. “Berarti dalam setahun ini luar biasa perkembangannya, 1.000 persen dong,” lanjutnya.

Namun dia menegaskan bahwa data tersebut masih dalam tahap pendalaman dan belum final. “Sekarang masih dalam progres pendalaman dulu, data-data itu harus tervalidasi,” katanya. 

Seiring dengan sorotan data, terdapat sejumlah kasus penggerebekan yang dikaitkan dengan komunitas LGBT di wilayah Jabodetabek.

Pada 22 Juni 2025 lalu, polisi menggerebek pesta homoseks di sebuah vila di kawasan Puncak Megamendung (Bogor) yang dihadiri oleh puluhan orang dari Jakarta & Bekasi. Sebanyak 75 pria diamankan dalam kegiatan yang dikemas sebagai famely gathering.

Meski lokasi di Bogor, disebut pula bahwa peserta berasal dari wilayah Bekasi, yang menimbulkan sorotan bahwa ada aktivitas luar jaringan biasa di kawasan tersebut.

Menurut MUI Bekasi, beberapa faktor yang disebut sebagai pemicu antara lain kondisi ekonomi, pemutusan hubungan kerja (PHK), hunian murah di daerah perkotaan, hingga disharmoni keluarga.

“Faktor yang paling dominan adalah masalah ekonomi, pemutusan hubungan kerja (PHK), ketidakharmonisan rumah tangga, dan juga KDRT,” ungkapnya.

Isu LGBT bisa menular juga sering juga sering dipertanyakan. Hingga saat ini belum ada penelitian yang membuktikan LGBT bisa menular.

Oleh karena itu, klaim bahwa LGBT menular tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat, dan perlu dibedakan antara aktivitas sosial/lingkup kelompok dengan orientasi atau identitas.

Jawa Pos Radar Jember Merangkum catatan penting terkait data yang beredar

- Data 5.600-lebih kasus di Bekasi merupakan data awal dari MUI dan lembaga-lembaga mitra yang masih dalam progres pendalaman.

- Angka ini belum diverifikasi secara resmi oleh pemerintah kota atau instansi statistik independen.

- Definisi kasus LGBT juga tidak dijelaskan secara rinci, apakah menghitung identitas, aktivitas, pelaporan, atau layanan kesehatan.

- Oleh karena itu, data ini sebaiknya dibaca sebagai indikasi sorotan sosial bukan sebagai angka final yang mewakili seluruh komunitas LGBT di Bekasi.

Jika lonjakan itu benar adanya, maka tantangannya bukan hanya soal angka melainkan soal bagaimana masyarakat dan pemerintah meresponsnya. 

Dengan demikian, lonjakan kasus LGBT di Bekasi seperti yang diklaim MUI memang menjadi tanda sorotan serius sosial.(yul)

Editor : M. Ainul Budi
#Menular #MUI #polisi #bekasi #lgbt #bogor