JAKARTA, Radar Jember - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali memakan korban. Setelah Ciamis dan Lampung, kini giliran siswa SDN 01 Gedong, Jakarta Timur, yang diduga mengalami keracunan, belum lama ini.
Rentetan insiden yang terjadi hampir setiap hari ini menyulut kemarahan wakil rakyat di gedung parlemen DPR RI.
Mereka menyebut program ini telah menjadi 'teror' bagi kesehatan anak-anak.
Baca Juga: Di Tengah Isu Keracunan, Bupati Fawait Jamin MBG di Jember Aman dan Menyehatkan
Wakil Ketua Komisi IX DPR, Charles Honoris, menegaskan kasus keracunan beruntun ini bukanlah insiden biasa, melainkan bukti adanya kegagalan sistemik dalam tata kelola program MBG.
"Pemerintah tidak boleh menutup mata. Kesehatan anak-anak tidak bisa dinegosiasikan," ujarnya, dalam keterangan resminya (01/10).
Menyikapi krisis ini, Charles mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret.
Pertama, dia meminta pemerintah menghentikan sementara penambahan dapur baru dan evaluasi total semua dapur yang sudah beroperasi.
MBGBaca Juga: Resmikan Dapur MBG di Wonoasri, Bupati Jember Gus Fawait Sebut Efek Domino bagi Ekonomi Lokal
Kedua, dia juga meminta pemerintah untuk melakukan audit ketat dan independen terhadap seluruh rantai pasokan, dari bahan baku hingga makanan tiba di tangan siswa.
Sebagai solusi permanen, Charles mengusulkan revolusi sistem dengan memindahkan pusat memasak ke dapur sekolah.
Dengan pengawasan langsung dari guru dan orang tua, serta penyajian model prasmanan yang lebih segar, risiko makanan basi dan terkontaminasi diyakini bisa ditekan.
Baca Juga: Bupati Fawait Janji Akhir 2025 Banyak Siswa Jember Sudah Nikmati Program Makan Bergizi Gratis
"Belajarlah dari Jepang dan Tiongkok. Berdayakan sekolah, jangan lagi andalkan dapur raksasa yang memproduksi ribuan paket dan sulit diawasi," tutupnya.
Editor : M. Ainul Budi