Jakarta, Radar Jember - Presiden Prabowo Subianto baru saja meresmikan 80 ribu lebih Koperasi Desa Merah Putih, yang berlangsung secara hibrid, di Desa Bentangan, Kecamatan Wonosari, Klaten, Jawa Tengah, Senin 21 Juli 2025.
Beberapa hari sebelum peresmian itu, DPR menerima usulan rencana penambahan untuk pelatihan pengurus dan anggota Koperasi Merah Putih, yang diajukan oleh Kementerian Koperasi (Kemenkop).
Sontak hal itu pun menuai sorotan dari sejumlah wakil rakyat di Senayan. Salah satunya datang dari Anggota Komisi VI DPR RI, Darmadi Durianto,
Ia menyoroti tajam peta jalan Kementerian Koperasi, khususnya program Koperasi Desa Merah Putih. Catatan itu ia sampaikan dalam agenda Rapat Kerja Komisi VI DPR RI bersama Menteri Koperasi Budi Arie Setiadi di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Rabu 9 Juli 2025.
Darmadi menyebut tiga catatan penting ini harus segera ditindaklanjuti agar program prioritas pemerintah tersebut tidak terbengkalai di tengah jalan.
Pertama, ia mempertanyakan kejelasan peta jalan (roadmap) program Koperasi Merah Putih yang belum menjamin tercapainya target menjadi pilar kemandirian ekonomi desa pada 2029.
Menurutnya, peta jalan yang disusun Kemenkop belum didukung dengan basis data empiris per desa, bahkan tahapan pelaksanaan pun tidak runut.
"Bagaimana Bapak bisa meyakinkan bahwa 2029 akan jadi pilar kemandirian ekonomi desa kalau peta jalannya saja masih awang-awang? Ini nonsense, Pak," tegas Darmadi, di hadapan Menkop Budi Arie, dalam keterangan resminya, dilansir parlementaria, 10 Juli 2025.
Lebih lanjut, ia juga mengaku tidak habis pikir dan mengkritisi permintaan tambahan anggaran sebesar Rp5,1 triliun untuk tahun 2025 yang hanya akan digunakan pada tahap peningkatan kapasitas pengurus dan pengawas koperasi.
"Bapak minta Rp5,1 triliun hanya untuk pelatihan, dari total ABT Rp5,9 triliun. Artinya kalau ini nggak ada, program akan terhambat. Padahal Pak Presiden Prabowo sedang giat-giatnya efisiensi. Saya ragu ini bakal dikasih, Pak," gerutunya.
Kedua, ia juga menyoroti soal belum jelasnya pembagian tugas antara Menteri Koperasi dan UKM dengan Wakil Menteri (Wamen) Koperasi dalam program ini. Menurutnya, ketidakjelasan ini akan membuat pekerjaan di lapangan nanti terkesan serabutan.
"Saya mau tahu sebenarnya pembagian tugas Bapak dengan Wamen itu apa? Ini serabutan, Pak. Supaya program ini efektif dan efisien, dibagi lebih jelas," papar Darmadi
Ketiga, ia melihat ada potensi lambatnya eksekusi (delivery) program di lapangan yang nantinya membuat masyarakat hanya menunggu kapan uang cair, bukan memikirkan manfaat jangka panjang.
"Kalau ini nggak segera dieksekusi, nanti orang pada mundur semua, Pak. Begitu ada gerakan mundur nasional, Bapak jebol. Delivery-nya ini lemah, gap ini harus Bapak tutup. Kalau nggak, pertaruhan jabatan Bapak di sini," ketus dia.
Meski Darmadi menyampaikan catatan kritis, bukan berarti dirinya menolak adanya Program Koperasi Merah Putih. Ia menyatakan akan mendukung sekaligus mengawal agar program ini berhasil.
Karenanya, ia meminta peta jalan Kementerian Koperasi, khususnya program Koperasi Merah Putih disempurnakan, yang mana dimulai dari pembagian tugas diperjelas supaya realisasi program bisa dipercepat.
"Saya ini senang sama Bapak, saya ingin Bapak berhasil. Tapi tolong tiga poin ini dikawal, supaya kita sama-sama nggak malu di 2029," pungkas Politisi PDI-Perjuangan tersebut.
Editor : M. Ainul Budi