Radar Jember - Kementerian Sosial (Kemensos) tengah menyiapkan kurikulum khusus bagi Sekolah Rakyat yang akan mulai dibuka pada tahun ajaran 2025/2026.
Kurikulum ini mengusung konsep pengelolaan Multi Entry–Multi Exit serta pendekatan pembelajaran yang dirancang khusus (tailor-made) untuk melahirkan generasi muda sebagai agen perubahan.
“Kami melibatkan beberapa kementerian dan lembaga untuk berdiskusi, dan sesuai arahan Pak Menteri Sosial nanti kurikulum Sekolah Rakyat itu khasnya model desain kurikulum tailor made, pola pengelolaannya Multi Entry–Multi Exit, dan berasrama tentunya,” ujar Sekretaris Jenderal Kemensos RI Robben Rico di Jakarta, Senin (9/6/2025), dikutip dari laman Kemensos RI.
Fleksibel, Sesuai Kebutuhan Siswa
Dengan sistem Multi Entry–Multi Exit, siswa memiliki fleksibilitas untuk memilih jalur belajar sesuai minat dan kebutuhan.
Kurikulum ini juga memberi ruang bagi latar belakang dan kemampuan siswa yang beragam agar dapat berkembang secara optimal.
“Melalui kurikulum khusus modifikasi tersebut, siswa fleksibel mempelajari sesuatu sesuai peminatan,” lanjut Robben.
Belajar dari Sekolah Unggulan
Untuk menyusun kurikulum yang relevan, Kemensos melakukan studi banding ke sejumlah sekolah unggulan di Indonesia, seperti MAN Insan Cendekia Serpong, CT Arsa Sukoharjo, dan Al Hikmah Batu.
Hasil kunjungan ini menjadi bahan pembanding dan inspirasi dalam perancangan model pendidikan Sekolah Rakyat.
Dari hasil benchmarking tersebut, Kemensos menilai perlunya mengintegrasikan pengalaman belajar yang merata di antara siswa, serta menyelaraskan substansi pelajaran dengan kompetensi yang ditargetkan.
Masa Persiapan dan Asesmen Awal
Sebelum proses pembelajaran dimulai, siswa akan menjalani masa orientasi yang dirancang untuk mempersiapkan mereka menghadapi sistem asrama dan kurikulum baru. Dalam tahap ini juga dilakukan asesmen diagnostik untuk memahami karakteristik, potensi, serta kebutuhan setiap siswa.
Pendekatan Individual dan Penguatan Nilai Karakter
Kurikulum Sekolah Rakyat akan mengedepankan pendekatan pembelajaran individual dan mendalam (deep learning).
Fokus utamanya tidak hanya pada aspek akademik, tetapi juga penguatan karakter, spiritualitas, cinta tanah air, serta penguasaan bahasa.
“Kurikulum yang sama juga akan diterapkan pada setiap jenjang mulai dari SD, SMP, dan SMA. Muatan pembelajarannya disesuaikan berdasarkan tingkatan satuan pendidikan untuk melihat proses capaian pembelajarannya,” ujar Robben.
Sinergi Lintas Kementerian
Penyusunan kurikulum ini melibatkan kerja sama lintas kementerian, termasuk Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Agama.
Kurikulum yang dihasilkan merupakan modifikasi dari materi yang telah diterapkan di sekolah-sekolah eksisting.
“Metode ini membuat masing-masing muatan yang terdapat di dalam kurikulum sudah diterapkan di sekolah-sekolah yang existing dengan sedikit penyesuaian. Tinggal dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan dari Sekolah Rakyat,” kata Robben.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Dianggap Solusi, Tapi Benarkah Siap Jalan di Jember? Ini Kata Komisi D DPRD Jember
Dibuka di 65 Lokasi, Target 100 Sekolah
Sekolah Rakyat direncanakan akan mulai beroperasi di 65 titik lokasi pada tahun ajaran 2025/2026, dengan target ekspansi hingga 100 titik di seluruh Indonesia.
Persiapan telah dilakukan secara bertahap, mencakup peninjauan lokasi, pembangunan sarana-prasarana, rekrutmen tenaga pengajar, serta sosialisasi kepada calon siswa dan orang tua.
Program ini merupakan bagian dari pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025 tentang Optimalisasi Pengentasan Kemiskinan.
Melalui Sekolah Rakyat, Kemensos berharap bisa memberikan akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
Nantinya, Sekolah Rakyat menjadi pencetak agen perubahan dan memutus transmisi kemiskinan antargenerasi.
Editor : Imron Hidayatullahh