Radar Jember – Setelah resmi bebas dari masa tahanan pada 7 Desember 2022, Umar Patek mulai menapaki lembaran baru dalam hidupnya di tengah masyarakat.
Namun, statusnya sebagai mantan narapidana terorisme masih menyisakan stigma .
Banyak pihak masih memandangnya dengan curiga, membuatnya sulit mendapatkan pekerjaan yang layak.
Di Surabaya, Umar bertemu dengan drg David Andreasmito, seorang dokter gigi yang juga berbisnis di bidang kuliner.
David kemudian menawarkan posisi kepada Umar sebagai peramu kopi di salah satu lini usahanya.
Bagi Umar, meramu kopi bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari proses memperbaiki diri dan menebus kesalahan masa lalu.
Ia berharap usahanya ini bisa menjadi bukti bahwa setiap orang layak mendapat kesempatan kedua.
Usaha kopi yang dirintisnya diberi nama unik: “Kopi Ramu 1966 by Umar Patek.”
Peluncuran merek ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk mantan Kepala Densus 88 Antiteror Polri, Komjen Marthinus Hukom, yang menandai momen simbolis rekonsiliasi dan harapan.
Namun demikian, tak semua pihak menyambut langkah ini dengan tangan terbuka.
Di media sosial, sejumlah warganet melontarkan kritik tajam, mencerminkan luka lama yang belum sepenuhnya sembuh di hati sebagian masyarakat.
Bagi Umar, jalan menuju penerimaan penuh masih panjang.
Kontroversi Internasional dan Reaksi Para Korban
Beberapa media internasional menyoroti usaha baru Umar Patek dengan nada keras, mencerminkan kemarahan dan trauma yang masih membekas di kalangan korban tragedi Bom Bali 2002.
“Umar Patek telah melakukan hal paling menjijikkan dan tercela,” ujar Phil Britten, penyintas asal Australia yang selamat dari tragedi saat berada di Bali bersama rekan satu timnya, dilansir dari 9News.
“Dia dibebaskan lebih awal karena dianggap menyesal, tapi tindakan ini menunjukkan sebaliknya,” tambah Britten.
Di pihak lain, Chusnul Chotimah, salah satu penyintas yang tubuhnya dipenuhi bekas luka bakar dan masih berjuang untuk mendapatkan perawatan medis, menghadiri peluncuran usaha kopi Umar.
“Dulu saya menyimpan dendam, tapi saya memaafkan. Saya tahu Anda telah berubah,” ujar Chusnul kepada Umar, dilansir dari Reuters.
Sementara, dalam The Guardian disebut, bagi sebagian besar korban dan keluarga mereka, pengampunan dan penebusan masih sulit diterima.
Baca Juga: Miris! 8 Bulan Belajar di Bawah Tenda: Potret KBM Siswa SDN Plalangan 03 Jember di Tengah Krisis Fasilitas