Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Dulu Racik Bom Kini Racik Kopi, Langkah Mantan Napiter Umar Patek Buka Bisnis Kopi Tuai Cibiran Warganet

Imron Hidayatullahh • Selasa, 10 Juni 2025 | 13:15 WIB
Mantan narapidana terorisme bom Bali, Umar Patek saat launcing kopi Ramu di Surabaya. (Instagram/balaitani)
Mantan narapidana terorisme bom Bali, Umar Patek saat launcing kopi Ramu di Surabaya. (Instagram/balaitani)

Radar Jember - Setelah resmi menghirup udara bebas pada 7 Desember 2022, Hisyam bin Alizein—yang lebih dikenal dengan nama Umar Patek—mulai menapaki babak baru dalam hidupnya di tengah masyarakat.

Namun, perjalanan kembali ke kehidupan normal bukanlah perkara mudah.

Umar menyadari bahwa status sebagai mantan narapidana kasus terorisme masih menimbulkan stigma yang dalam.

Banyak orang masih memandangnya dengan curiga, dan hal itu membuatnya kesulitan untuk memperoleh pekerjaan yang layak.

Pintu perubahan mulai terbuka dua bulan setelah ia keluar dari Lapas Porong, Sidoarjo, Jawa Timur.

Di Surabaya, Umar bertemu dengan drg David Andreasmito, seorang dokter gigi yang juga menjalankan usaha di bidang kuliner.

Pertemuan sederhana itu menjadi awal dari peluang baru yang tidak terduga.

Dalam pertemuan tersebut, Umar menyeduhkan secangkir kopi untuk sang dokter.

Siapa sangka, racikan kopi itu menarik minat David.

Ia pun menawarkan Umar posisi sebagai peramu kopi di salah satu lini usaha miliknya.

Dari situ, Umar mulai meracik harapan baru—melalui biji kopi.

Baginya, meramu kopi bukan sekadar pekerjaan, melainkan jalan untuk memperbaiki hidup dan menebus masa lalu.

Baca Juga: Sekolah Rakyat di Jember: Bukan Hanya Soal Tak Mampu secara Finansial

Ia berharap usahanya ini bisa diterima oleh berbagai lapisan masyarakat, sebagai bukti bahwa setiap orang layak mendapatkan kesempatan kedua.

Usaha kopi yang digagas Umar diberi nama unik “Kopi Ramu 1966 by Umar Patek”.

Kata “Ramu” dipilih sebagai permainan kata dari namanya sendiri yang dibalik dari “Umar”.

Produk ini kini tersedia di Hedon Estate Kitchen & Lounge yang berlokasi di Surabaya dan Banyuwangi.

Peluncuran brand ini turut dihadiri mantan kepala Densus 88 Antiteror Polri, Komjen Marthinus Hukom.

Sebuah peristiwa yang menjadi simbol rekonsiliasi dan harapan.

Namun, tidak semua menyambut langkah ini dengan tangan terbuka.

Di media sosial, sejumlah warganet melontarkan kritik tajam.

"Gw ga akan ngopi di situ sbg rasa empati kepada para keluarga korban. Al Fatihah buat para korban," tulis akun @yuri.s**** di kolom komentar akun Instagram @balisantuy.

“Boykot lah, serius mau di-support?” tulis akun @akidrah********.

“Kopi bubuk mesiu,” cibir akun @made*****.

Respons negatif ini mencerminkan luka lama yang belum sepenuhnya sembuh di hati sebagian masyarakat.

Bagi Umar, jalan menuju penerimaan penuh masih panjang.

Baca Juga: Gencar Bangun Sekolah Rakyat, Tapi Siswa SD Negeri di Jember Ini Masih Lesehan karena Kelas Tak Dibangun

Editor : Imron Hidayatullahh
#mantan napiter #Umar Patek jadi peramu Kopi #umar patek #bom bali 2002