Radar Jember - Sebuah gubuk sederhana di pinggiran Jalan HOS Cokroaminoto, Solo, pernah menyimpan kenangan tentang sepasang lansia.
Gubuk berdinding kayu itu, seolah menjadi saksi bisu dari perjalanan hidup mereka berdua, setidaknya dalam beberapa tahu terakhir.
Kamera Google Maps pertama kali menangkap kehangatan mereka pada tahun 2015.
Saat keduanya sedang duduk berdampingan di bangku di samping gubuk sekaligus warung mereka.
Itu adalah pemandangan yang sederhana, namun sarat makna.
Tahun demi tahun berlalu, dan kamera Google Maps kembali menangkap kebersamaan mereka di tempat yang sama.
Pada 2016, mereka masih tampak menjalani hari-hari berdua di tempat yang sama.
Melakukan aktivitas yang terlihat masih sama dengan foto setahun sebelumnya: menyerut bambu.
Menurut komentar salah satu warganet pada unggahan akun Instagram @fyifact, itu adalah usaha mereka, membuat tusuk sate.
Namun, pada akhir 2017, pemandangan berbeda nan tak terduga terlihat dari tangkapan kamera Google Maps.
Hanya tampak Warsini duduk termangu di balik daun pintu.
Menghadap ke luar seorang diri.
Tak begitu tampak air mukanya.
Satu hal yang pasti, Karto tak menemaninya.
Ke manakah kakek itu? Tentu Google Maps tak punya jawabnya.
Pada 2018, tangkapan kamera Google Maps menampilkan momen serupa.
Hanya ada Warsini yang duduk seorang diri di bangku itu.
Satu kaki bertopang di atas lutut kaki lainnya.
Satu tangan tampak berada di atas bangku, sedang tangan lainnya menopang dagu.
Tak ada Karto di sampingnya.
Hingga April 2019, kamera Google Maps menangkap momen yang tak jauh beda.
Warsini duduk termangu seorang diri di bangku itu, di luar gubuk.
Tangannya masih menopang dagu.
Agaknya begitu sunyi di tengah lalu lalang kendaraan yang terasa olehnya selama tiga tahun terakhir tanpa Karto, meski tak dijelaskan oleh Google Maps
Kepergian Karto, meski tak terlihat dalam gambar itu, mengundang haru warganet yang melihatnya—sebuah kehilangan yang dirasakan oleh setiap sudut gubuk itu, yang kini hanya menyisakan kenangan.
Setiap tahun, gambar-gambar yang diambil oleh kamera Google Maps semakin memperlihatkan perubahan.
Pada tahun 2022, gubuk yang dulu penuh kenangan mereka telah kosong, pintunya tertutup rapat.
Sedangkan bangku di sampingnya telah tampak usang tak terawat.
Kini, sejak 2024, gubuk itu telah hilang, rata dengan tanah.
Tidak ada lagi bangku yang menanti seseorang untuk duduk di sana.
Gubuk itu telah dirobohkan, namun jejak-jejak kenangan tetap terukir dalam memori mereka yang mengenalnya.
Karto dan Warsini mungkin tak punya gawai untuk mengabadikan momen-momen mereka berdua.
Namun, semesta selalu punya cara tak terduga menangkap kenangan.
Menjadi mahal sekali kisah Karto dan Wartini yang kini bisa disaksikan banyak orang.
Editor : Imron Hidayatullahh