Radar Jember - Cerita tentang harapan di tengah keterbatasan tersiar dari sebuah sudut di Kecamatan Kuripan, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Dari sebuah rumah kecil terbuat dari jalinan bambu, senyum penuh harap dan raut penuh keyakinan terpancar dari wajah Novatul Alfatiha, 12 tahun.
Di usianya yang masih belia, agaknya kehidupannya dan keluarga tak mudah.
Saat anak seusianya sedang belajar dengan nyaman di sekolah, hak pendidikan itu tak didapatkan Nova, sapaannya.
Bukan karena tak mau, tapi kehidupan tak memberinya pilihan itu.
Meski begitu, keinginan dan semangatnya untuk tetap melanjutkan pendidikan masih menyala.
"Saya ingin sekolah. Ingin meringankan ibu. Kalau saya bisa masuk sekolah ini (Sekolah Rakyat, Red), saya tetap bisa lanjut sekolah, ibu enggak susah, enggak sedih lagi," ucap Nova penuh harap.
Bagi sebagian orang, Sekolah Rakyat mungkin hanya sebuah program pemerintah untuk menyediakan tempat belajar gratis.
Tidak demikian bagi Nova.
Ia melihatnya sebagai sebuah peluang emas–bahkan lebih berharga dari emas sungguhan–untuk menata kembali ekonomi keluarganya yang kusut.
Ia melihatnya sebagai sebuah jalan keluar dari pengapnya hidup di bawah garis kemiskinan.
Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga keluarganya.
Di balik semangat gadis 12 tahun itu, ada sosok orang tua yang berjuang dalam diam.
Fatimatul, ibu Nova, adalah perempuan yang tak mudah menyerah.
Ia mengatakan, seumur hidupnya ia tak pernah punya utang.
Namun, pandemi Covid-19 tak hanya memukul kesehatan banyak orang dan melumpuhkan ekonomi dunia.
Tapi juga meruntuhkan usaha Fatimatul, membuat ekonomi keluarganya terpuruk.
Demi bertahan, ia memberanikan diri mengajukan pinjaman ke bank, bahkan berutang kepada rentenir.
"Utang kami banyak. Belum lagi utang pada rentenir," ungkap Fatimatul.
Sebenarnya, Fatimatul pernah tercatat sebagai penerima bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) dan bantuan sembako.
Namun, ketika penghasilan dari usaha kecil-kecilan di rumah mereka meningkat, dia pilih mundur dari kepesertaan PKH.
hanya bersedia menerima bansos sembako.
Bukan karena merasa sudah sejahtera, tapi untuk memberikan kesempatan kepada keluarga lain yang lebih membutuhkan.
"Meskipun hidup kami terpuruk, saya tidak ingin anak-anak juga ikut terpuruk. Alhamdulillah, anak-anak berkeinginan sekolah semua. Termasuk Nova. Anak ini keinginannya bersekolah kuat," jelas Fatimatul.
Tibalah informasi bahwa ada program sekolah unggulan yang memberikan kesempatan pendidikan gratis.
Teringat semangat dan mimpi Nova untuk mendapatkan pendidikan, Fatimatul tak perlu berpikir panjang.
Di sanalah harapannya tumbuh kembali.
Dengan mantap ia mendaftarkan Nova, anak keduanya.
"Ternyata nama sekolahnya adalah Sekolah Rakyat," ucapnya.
Fatimatul mengatakan, jika anak-anaknya sudah memiliki akses pendidikan yang baik, ia dan suami bisa lebih fokus bekerja.
Sambil mencari cara melunasi utang-utang kepada bank dan rentenir.
Dan, perlahan menata kembali kehidupan keluarga mereka.
Sementara itu, melansir dari situs Kemensos RI, pada kegiatan Sekolah Rakyat tahap pertama di NTB, tepatnya di Sentra Paramita, anggota DPR RI turut menyatakan dukungannya.
"Sudah sangat tepat, anak kita seperti Nova ini menjadi siswa di Sekolah Rakyat. Bahkan dia harus menjadi prioritas yang wajib diterima," ucap anggota Komisi VIII DPR RI periode 2024 -2029 Hj. Lale Syifaun Nufus saat mendampingi kegiatan tersebut.
Di balik raut Nova, ada kisah tentang harapan yang tak tandus.
Tentang seorang anak yang ingin bersekolah tak cuma untuk dirinya sendiri.
Tapi juga untuk keluarga, demi kehidupan yang lebih mudah.
Di sekolah rakyat, harapan-harapan itu mendapatkan tempat untuk tumbuh dan menjadi subur.
Editor : Imron Hidayatullahh