Cerita dari Gang Sempit di Banjarnegara, Harapan Rizky Kembali Menyala lewat Sekolah Rakyat  

Imron Hidayatullahh • Dipublikasikan Senin, 26 Mei 2025 | 14:00 WIB
Rustini dan anaknya, Rizky, di rumahnya yang berukuran 2x3 meter, di Banjarnegara, Jateng. (Kemensos RI)
Rustini dan anaknya, Rizky, di rumahnya yang berukuran 2x3 meter, di Banjarnegara, Jateng. (Kemensos RI)

Radar Jember - Di sebuah gang sempit di Banjarnegara, Jawa Tengah, berdiri sebuah rumah mungil berukuran hanya 2x3 meter.

Berdinding asbes, berlantai tanah yang hanya dilapisi karpet tipis, dan beratap seng.

Tak ada listrik, tak ada kamar mandi, dan tidak pula saluran air bersih.

Bukan di tanah sendiri, melainkan di atas lahan milik PT Kereta Api Indonesia (KAI)

Di rumah itulah Rustini hidup bersama ketiga anaknya, dalam kondisi yang jauh dari kata layak.

Rustini adalah seorang single parent.

Sehari-hari, ia berjuang menghidupi keluarganya dengan penghasilan yang tak lebih dari Rp50 ribu.

Jumlah itu harus cukup untuk makan empat orang.

Selain sebagai single parent, Rustini juga menyandang disabilitas.

Namun, tak pernah sekali pun ia membiarkan keterbatasannya menjadi alasan untuk menyerah.

Anak sulungnya, Rizky, kini berusia 17 tahun.

Meski usianya setara anak-anak SMA, Rizky tak pernah benar-benar menikmati pendidikan seperti teman-teman sebayanya.

Tekanan ekonomi memaksanya putus sekolah bahkan sebelum menamatkan SMP.

Padahal, Rizky memiliki semangat belajarnya masih menyala di tengah keterbatasan.

Ia ingin sekolah, ingin tahu lebih banyak tentang dunia, ingin mengejar cita-cita punya bengkel otomotif sendiri.

Namun, realitas memaksanya memendam mimpi-mimpi itu di balik karpet rumahnya—setidaknya sampai kini.

Program Sekolah Rakyat agaknya bakal menjadi harapan baru bagi Rizky.

Melansir dari situs Kementerian Sosial (Kemensos) RI, melalui forum bulanan Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2), pendamping sosial memperkenalkan Sekolah Rakyat sebagai peluang baru.

Dari forum itu, Rizky terdata sebagai calon siswa yang layak mengikuti program sekolah gratis tersebut.

Yang memang disiapkan khusus untuk anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.

Tidak ada biaya, tidak ada tes akademik, hanya syarat verifikasi bahwa mereka benar-benar berasal dari kelompok rentan.

Nama Rizky pun masuk dalam daftar calon siswa.

Ia termasuk dalam desil 1 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN)—kategori masyarakat termiskin di Indonesia.

Harapan yang sempat padam kembali menyala.

“Setelah lulus dari Sekolah Rakyat saya ingin jadi orang yang lebih baik, mewujudkan cita-cita punya bengkel otomotif sendiri. Terima kasih Pak Prabowo dan Pak Menteri. Semoga sehat selalu,” ucap Rizky penuh keyakinan.

Kisah Rizky dan Rustini menjadi gambaran nyata dari tujuan besar Sekolah Rakyat—membuka jalan keluar dari kemiskinan melalui pendidikan.

Pemerintah tak hanya fokus pada anak-anak seperti Rizky, tetapi juga menyiapkan program pemberdayaan untuk para orang tua agar bisa mandiri secara ekonomi.

Rumah mereka yang sempit dan reyot direncanakan akan direnovasi.

“Orang tuanya juga kami bantu. Rumahnya insyaallah akan diperbaiki lewat program pemerintah. Orang tuanya diberdayakan, anaknya bersekolah di Sekolah Rakyat,” ujar Menteri Sosial Saifullah Yusuf, atau yang akrab disapa Gus Ipul, yang mengunjungi kediaman Rustini, Minggu (25/5/2025), dikutip dari situs Kemensos RI.

Dari lorong kecil di Banjarnegara, cerita tentang harapan akan pendidikan kini menginspirasi.

Intervensi pemerintah melalui program Sekolah Rakyat menjadi janji perubahan ke arah yang lebih baik bagi keluarga Rustini, dan bagi ribuan keluarga lainnya di penjuru negeri.

 Baca Juga: Perlu Payung Hukum yang Pasti, Langkah Menuju Sekolah Gratis untuk SMK/SMA, Ini Pandangan Dari Kepala Sekolah SMK di Bondowoso

Editor : Imron Hidayatullahh
Sekolah Rakyat Mensos Gus Ipul DTSEN banjarnegara gus ipul Desil 1 dan 2 DTSEN kemensos ri