radar jember - Jembatan Perahu Haji Endang yang terletak di Kecamatan Pamanukan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, telah menjadi urat nadi mobilitas masyarakat selama bertahun-tahun.
Dibangun secara swadaya oleh Haji Endang, tokoh masyarakat setempat, jembatan ini menghubungkan dua desa yang sebelumnya terisolasi karena tidak memiliki akses jalan darat yang memadai.
Berbeda dari jembatan permanen pada umumnya, struktur ini sebenarnya merupakan rangkaian perahu yang disusun dan diikat membentuk jembatan terapung sederhana.
Inovasi ini lahir dari kebutuhan mendesak warga untuk menyeberangi sungai besar tanpa harus memutar belasan kilometer.
“Dulu anak-anak sekolah harus naik rakit satu per satu atau jalan kaki sangat jauh. Setelah ada jembatan ini, semua jadi lebih mudah,” ujar Haji Endang, pencetus sekaligus perawat utama jembatan tersebut.
Namun, seiring waktu, kondisi jembatan mulai mengkhawatirkan.
Kayu pelapis banyak yang mulai lapuk, tambatan perahu longgar, dan papan pijakan menjadi licin ketika hujan.
Kekhawatiran akan keselamatan mulai menghantui warga, apalagi di musim hujan saat arus sungai deras.
Meski fungsinya vital, perawatan jembatan selama ini masih bergantung pada swadaya masyarakat.
Pemerintah daerah belum memberikan bantuan konkret, baik dalam bentuk renovasi maupun pembangunan jembatan permanen.
Tokoh masyarakat dan warga setempat berharap Pemerintah Kabupaten Subang segera turun tangan.
Mereka menilai sudah saatnya infrastruktur vital seperti ini dikelola secara lebih profesional dan aman demi keselamatan serta kelancaran aktivitas warga.
“Kami siap bantu gotong royong, tapi perlu campur tangan lebih besar. Jangan tunggu ada korban baru bertindak,” tegas Haji Endang.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Dinas Pekerjaan Umum Subang mengenai rencana pembangunan atau perbaikan jembatan tersebut.
Editor : M. Ainul Budi