Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kisah Pilu Seorang Ibu yang Bertahan dengan Pasangan Toxic: Dampak pada Keluarga dan Upaya Penyembuhan

M. Ainul Budi • Senin, 21 April 2025 | 23:13 WIB
Photo
Photo

radar jember - Hubungan toxic tidak hanya merugikan pasangan yang terlibat, tetapi juga berdampak besar pada anak-anak dan lingkungan sekitar.

Sebuah cerita viral di Twitter yang diunggah oleh akun @belicaup mengungkap penderitaan seorang ibu yang bertahun-tahun bertahan dengan pasangan yang manipulatif, egois, dan tidak bertanggung jawab.

Kisah ini memicu diskusi luas tentang betapa berbahayanya mempertahankan hubungan yang tidak sehat, serta pentingnya dukungan bagi korban untuk keluar dari situasi tersebut.  

Dalam utas Twitter tersebut, sang anak menggambarkan bagaimana ibunya perlahan kehilangan kebahagiaan dan semangat hidup karena terus-menerus diterpa tekanan emosional dari pasangannya.

Beberapa bentuk kekerasan yang dialami sang ibu antara lain:  
1. Kekerasan Verbal dan Emosional – Sering dimarahi tanpa alasan jelas, dihina, dan direndahkan.  
2. Penelantaran – Pasangan tidak memberikan dukungan finansial atau perhatian, sehingga sang ibu harus menanggung beban sendirian.  
3. Manipulasi Psikologis – Sang ayah kerap membuat ibunya merasa bersalah ketika mencoba membela diri atau mengungkapkan perasaan.  

Meski menderita, ibunya memilih bertahan karena beberapa alasan:  
- Tekanan Sosial – Takut dianggap gagal dalam menjaga keutuhan keluarga.  
- Kekhawatiran akan Masa Depan Anak – Tidak ingin anaknya tumbuh dalam keluarga "broken home".  
- Harapan Palsu – Percaya bahwa pasangannya akan berubah suatu hari nanti.  

Anak tersebut mengungkapkan bahwa ibunya menunjukkan gejala gangguan mental, seperti:  
- Kecemasan Berlebihan – Sang ibu sering gelisah dan sulit tidur.  
- Depresi – Kehilangan minat pada hal-hal yang dulu disukai.  
- Stres Kronis – Terlihat dari perubahan fisik seperti berat badan turun drastis dan sering sakit.  

Tidak hanya ibunya, sang anak juga merasakan dampaknya:  
- Rasa Bersalah – Merasa menjadi beban karena ibunya terus bertahan demi dirinya.  
- Trauma Hubungan – Khawatir mengulangi pola yang sama di masa depan.  

Unggahan tersebut mendapat ribuan tanggapan, dengan banyak netizen berbagi pengalaman serupa. Beberapa poin penting yang muncul dalam diskusi:  
1. Pentingnya Melepaskan Diri dari Hubungan Toxic  
  - Banyak yang menekankan bahwa bertahan justru memperburuk keadaan.  
  - "Cinta tidak seharusnya menyakitkan," tulis salah satu netizen.  

2. Dukungan untuk Korban  
  - Banyak yang menyarankan mencari bantuan psikolog atau lembaga perlindungan.  
  - Beberapa membagikan hotline dan komunitas pendukung.  

3. Edukasi tentang Tanda-Tanda Hubungan Tidak Sehat 
  - Kekerasan tidak selalu fisik, tapi bisa berupa kontrol, gaslighting, atau isolasi sosial.  

Psikolog klinis, Dr. Maya Sari, menjelaskan bahwa korban hubungan toxic sering terjebak dalam siklus kekerasan karena:  
- Trauma Bonding – Ketergantungan emosional pada pelaku.  
- Isolasi Sosial – Pelaku sering memutus korban dari keluarga atau teman.  

Langkah yang Disarankan:
1. Mencari Dukungan Profesional – Konseling psikologis dapat membantu korban memahami situasi dan mengambil keputusan.  
2. Membangun Jaringan Dukungan – Keluarga dan teman bisa menjadi sistem pendukung untuk keluar dari hubungan beracun.  
3. Perlindungan Hukum – Jika ada kekerasan fisik atau ancaman, penting untuk melaporkan ke pihak berwajib.  

Kisah ini bukan sekadar cerita viral, melainkan cerminan banyak perempuan dan keluarga yang terjebak dalam hubungan tidak sehat. Perlu kesadaran kolektif untuk mengenali tanda-tanda toxic relationship dan memberikan dukungan bagi korban.  

"Tidak ada salahnya memilih diri sendiri. Kebahagiaanmu juga penting."

Editor : M. Ainul Budi
#toxic