radar jember - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan, menembus level Rp16.900 per dolar AS pada Rabu pagi.
Pelemahan ini mencerminkan kekhawatiran pasar atas eskalasi perang dagang global serta dampak kebijakan tarif impor AS terhadap perekonomian Indonesia.
Pelemahan rupiah sebesar 0,24% dibandingkan hari sebelumnya terjadi di tengah ketegangan perdagangan internasional.
Pemerintah AS baru-baru ini menaikkan tarif impor hingga 104% terhadap produk asal China dan menetapkan tarif 32% untuk barang-barang dari Indonesia. Kebijakan ini memberi tekanan tambahan terhadap pasar keuangan dalam negeri.
Dampaknya langsung terasa di bursa saham Indonesia. Pada Selasa (8/4), indeks utama IHSG anjlok 9,2% saat pembukaan, memicu penghentian perdagangan sementara selama 30 menit.
Di sisi lain, rupiah terperosok hingga 1,8%, menembus rekor terendah sejak krisis keuangan Asia.
Menanggapi kondisi tersebut, Bank Indonesia (BI) menyatakan kesiapannya untuk bertindak tegas menjaga stabilitas rupiah. BI akan melakukan intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forwards (DNDF), dan pasar obligasi.
Namun, opsi penurunan suku bunga dinilai terbatas karena risiko arus keluar modal masih tinggi.
Ketua Umum Apindo, Hariyadi Sukamdani, menyebutkan bahwa pelemahan rupiah ini dapat memukul sektor bisnis, terutama yang bergantung pada bahan baku impor. “Pengusaha kini mulai menunda pembelian dan pengeluaran besar untuk meredam risiko keuangan,” ujarnya.
Sementara itu, pemerintah Indonesia memilih pendekatan diplomatik. Delegasi tingkat tinggi akan dikirim ke Washington pekan depan, dipimpin oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, didampingi oleh Menkeu Sri Mulyani dan Menlu Sugiono. Misi ini bertujuan meredakan ketegangan dan mencari solusi atas tarif impor yang merugikan.
Dengan gejolak eksternal yang masih tinggi, pelaku pasar diimbau untuk tetap waspada. Pemerintah dan BI akan terus memantau situasi secara ketat guna menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Editor : M. Ainul Budi