Radar Jember – Probolinggo dijuluki sebagai kota transit karena posisinya yang strategis memiliki peran penting dalam menghubungkan berbagai kota besar.
Stasiun kereta api Probolinggo menjadi penghubung penting di area tapal kuda dan berada dibawah operasional KAI Daop 9 Jember.
Stasiun Probolinggo merupakan stasiun kelas satu yang terletak di Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.
Dari dulu sampai sekarang, Stasiun Probolinggo menjadi penghubung penting antara Jawa Timur bagian barat dengan wilayah Tapal Kuda ataupun Daop 9 Jember.
Keberadaan stasiun kereta api Probolinggo tidak lepas dari sejarah pembangunannya di masa Hindia Belanda.
Pembangunan Stasiun Probolinggo dimulai bersamaan dengan pembangunan rute kereta api Pasuruan-Probolinggo-Klakah.
Proyek pembangunannya dilakukan oleh perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS), sejak tahun 1884 sampai 1895.
Stasiun Probolinggo menjadi proyek yang besar karena peran pentingnya dalam menghubungkan ke Daop 9 Jember.
Proyek ini digarap mulai dari Pasuruhan baru menuju Probolinggo yang selesai di tahun 1884. Pengerjaan dilanjutkan dari Probolinggo menuju Klakah usai sepuluh tahun kemudian.
Dahulu, di bagian timur Stasiun Probolinggo ada stasiun kecil yang bernama Stasiun Jati yang menjadi titik awal perluasan jalur kereta api menuju Kraksaan, yang dikerjakan tahun 1897.
Dari Kraksaan melewati Jabung, pada tahun 1898 jalur kereta api dibangun bercabang menuju Stasiun Kalibuntu dan Stasiun Paiton.
Khusus jalur Probolinggo-Jati-Gending-Kraksaan yang diteruskan ke Kalibuntu maupun ke Paiton, proyek dikerjakan oleh Probolinggo Stroomtram Maatschappij (PbSM). Saat ini, jalur tersebut sudah tidak aktif lagi.
Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Stasiun Probolinggo menjadi titik pusat transportasi di Kota Probolinggo.
Karena menjadi kota pelabuhan, Stasiun Probolinggo memiliki peran untuk menghubungkan ke Pelabuhan Tanjung Tembaga Probolinggo.
Kini, posisi Stasiun Probolinggo termasuk kedalam jajaran stasiun kereta api yang penting di Jawa Timur, khususnya Daop 9 Jember.
Apalagi perannya yang sampai saat ini mengangkut wisatawan lokal dan macanegara menuju Bromo.
Editor : M. Ainul Budi