Radar Jember – Sepur Kluthuk Jaladara sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Kota Solo.
Sepur Kluthuk Jaladara merupakan kereta uap peninggalan kolonial yang masih berfungsi hingga saat ini.
Kereta tersebut sekarang beroperasi di kota Solo yang dikhususkan sebagai kereta pariwisata.
Penumpang yang naik ke dalam Sepur Kluthuk Jaladara akan mendapatkan nuansa bersejarah.
Kereta uap ini menarik dua gerbong untuk penumpang dan menggunakan kayu jati sebagai bahan bakarnya.
Sepur Kluthuk Jaladara menggunakan lokomotif C1218 yang dibuat di pabrik Hartmann, Jerman pada 1896.
Sedangkan dua gerbongnya dibuat di Belanda pada tahun 1906.
Baik lokomotif ataupun kereta penumpang, semuanya telah berumur lebih dari satu abad.
Dua kereta penumpang dibuat menggunakan kayu jati pilihan yang memberikan tampilan klasik.
Gerbong CR 16 mampu menampung sebanyak 40 kursi panjang, sedangan gerbong CR 44 menampung 36 kursi berhadap-hadapan.
Setelah masa kejayaannya di era kolonial, kereta ini sempat operasional di Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Disana, kereta ini beroperasi di rute Cepu-Blora-purwodadi.
Sepur Kluthuk Jaladara yang dulunya dikenal C1218 kemudian dikirim ke Ambarawa setelah tidak berfungsi lagi.
Kereta tersebut mendapatkan perbaikan setelah sekian lama bersemayam disana.
Pada 2009, C1218 mendapat panggilan dari kota solo untuk mengemban tugas sebagai kereta pariwisata.
Saat peresmiannya, C1218 mendapatkan nama yang diambil dari kereta perang, yaitu Sepur Kluthuk Jaladara.
Pada 2020, Sepur Kluthuk Jaladara kedatangan lokomotif D1410 yang akan mendampingi lokomotif C1218.
Lokomotif D1410 lebih muda dari C1218, yakni dibuat di Jerman pada tahun 1921.
Lokomotif D1410 terakhir kali beroperasi di Jawa Barat pada tahun 1958. Sebelum mendapat perbaikan dan dikirim ke Kota Solo, lokomotif ini bersemayam di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Sepur Kluthuk Jaladara diresmikan pada tanggal 27 September 2009, oleh Menteri Perhubungan pada saat itu, Jusman Syafi’i Djamal.
Editor : Radar Digital