Radar Jember - Banyuwangi, dikenal sebagai 'Sunrise of Java', menyimpan banyak jejak sejarah masa lalu yang penuh dengan kisah klasik.
Salah satu peninggalan yang paling menarik perhatian adalah Pedang Luwuk. Pedang pendek ini punya sejarah panjang dan kisah heroik yang luar biasa.
Pedang Luwuk bukan sekadar pedang biasa. Konon, pedang ini digunakan oleh para petinggi kerajaan di Jawa untuk melawan penjajah Belanda.
Bentuknya sederhana, hitam legam dengan bilah tajam di satu sisi. Namun, kekuatannya luar biasa, mampu membuat pasukan Belanda kocar-kacir dalam pertempuran.
Ditemukan sekitar 15 tahun lalu di daerah Rowo Bayu, Banyuwangi, Pedang Luwuk menjadi saksi bisu Perang Bayu pada tahun 1771.
Saat itu, pasukan Blambangan yang dipimpin oleh Mas Rempeg (Pangeran Jagapati) dan Wong Agung Wilis, menggunakan pedang ini untuk melawan pasukan Belanda.
Pedang Luwuk dipercaya sebagai senjata sakti yang membantu para pejuang Blambangan mempertahankan tanah mereka.
Pedang ini dibuat oleh seorang empu terkenal, Ki Luwuk. Meskipun desainnya sederhana, pedang ini dihiasi dengan motif yang unik, terutama pada versi Blambangan dan Majapahit.
Perbedaan antara keduanya terletak pada pamor atau motif yang terukir di bilahnya. Pedang Luwuk Blambangan memiliki motif bulan sabit, sementara Luwuk Majapahit dihiasi dengan garis-garis halus.
Selain keindahannya, ada hal yang membuat Pedang Luwuk begitu dihormati—ritual sakral yang menyertainya. Selama proses pembuatannya, bilah pedang ini dibaluri dengan bisa ular hijau atau ular Viper.
Bahkan, darah haid pertama dari seorang gadis perawan digunakan dalam ritual ini. Semua ini dilakukan untuk memberikan kekuatan mistis pada pedang, agar pemiliknya dapat menggunakannya dengan ampuh dalam pertempuran.
Kini, Pedang Luwuk lebih dihargai sebagai artefak bersejarah daripada senjata perang. Namun, keampuhan dan kisah mistis di baliknya tetap hidup dalam cerita rakyat Banyuwangi.
Pedang ini menjadi simbol keberanian, kekuatan, dan perlawanan, sekaligus warisan yang terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman.
Seiring waktu, fungsi Pedang Luwuk berubah. Dari senjata yang digunakan dalam peperangan, kini ia menjadi koleksi berharga yang dihormati karena nilai dan peran pentingnya dalam sejarah.
Editor : Radar Digital