Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

TRAGIS Dibunuh Karena Cinta, Begini Sejarah Nama Banyuwangi Hingga Sekarang Jadi Tempat Banyak Dikunjungi Wisatawan

Radar Digital • Kamis, 29 Agustus 2024 | 23:18 WIB
Sumber foto: Web Resmi Banyuwangikab
Sumber foto: Web Resmi Banyuwangikab

Radar Jember - Banyuwangi, sebuah kabupaten di ujung timur Pulau Jawa, kaya dengan sejarah dan legenda yang menarik.

Kisah lahirnya nama Banyuwangi sering dikaitkan dengan cerita tragis tentang cinta dan kesetiaan seorang istri.

Konon, dulu ada seorang raja bernama Prabu Sulahkromo yang tergila-gila pada Sri Tanjung, istri dari Patih Sidopekso.

Sang raja mencoba merayu Sri Tanjung, namun cintanya ditolak.

Ketika Patih Sidopekso kembali dari tugas, raja memfitnah Sri Tanjung telah berbuat serong.

Sang Patih yang marah akhirnya membunuh istrinya. Sebelum mati, Sri Tanjung berkata bahwa jika darahnya membuat sungai berbau harum, maka dia tidak bersalah.

Benar saja, air sungai itu menjadi jernih dan berbau wangi, sehingga nama Banyuwangi pun lahir, yang berarti "air wangi".

Namun, kisah Banyuwangi tidak berhenti di situ. Sejarah Banyuwangi juga erat kaitannya dengan Kerajaan Blambangan.

Blambangan adalah kerajaan terakhir yang berjuang melawan dominasi VOC (Belanda) di Jawa Timur.

Puncaknya terjadi pada 18 Desember 1771, ketika rakyat Blambangan melakukan perang habis-habisan atau yang dikenal sebagai "Perang Puputan Bayu" melawan VOC.

Meski kekuatan VOC sangat besar, rakyat Blambangan di bawah pimpinan Jagapati berhasil memberikan perlawanan sengit.

Blambangan adalah wilayah yang strategis bagi VOC karena posisinya di ujung timur Jawa, dekat dengan Bali dan Selat Bali.

Awalnya, VOC tidak begitu tertarik untuk menguasai Blambangan, meskipun Pakubuwana II telah menyerahkan wilayah Jawa Timur, termasuk Blambangan, pada tahun 1743.

Namun, ketika Inggris membuka kantor dagang di Banyuwangi pada tahun 1766, VOC merasa terancam dan segera mengambil alih Blambangan.

Perang panjang pun pecah, dengan VOC akhirnya berhasil merebut wilayah tersebut, meski dengan harga yang sangat mahal.

Pasca perang, Banyuwangi mengalami masa-masa sulit. Rakyat mengalami penindasan, dengan hasil panen yang dirampas dan kaum muda dipaksa bekerja tanpa upah.

Namun, semangat rakyat Blambangan tidak pernah padam. Mereka terus berjuang demi kebebasan mereka, yang puncaknya terjadi dalam Perang Puputan Bayu.

Kini, Banyuwangi telah bertransformasi menjadi kota yang dikenal dengan kekayaan budaya dan pariwisatanya.

Dari yang dulu dikenal sebagai kota santet, Banyuwangi kini menjadi destinasi wisata internasional dengan penghargaan dari United Nations World Tourism Organization (UNWTO).

Kabupaten ini terus berkembang dengan pesat, baik dari segi infrastruktur, pendidikan, hingga pariwisata.

Salah satu buktinya adalah pembangunan Bandara Banyuwangi yang memudahkan akses ke berbagai daerah.

Kabupaten ini juga terkenal dengan keindahan alamnya, seperti Taman Nasional Baluran, Kawah Ijen dengan fenomena api birunya yang memukau, serta pantai-pantai yang menawan.

Tidak heran, Banyuwangi kini menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Indonesia.

Jadi, dari legenda romantis hingga perjuangan melawan penjajah, Banyuwangi adalah daerah yang penuh dengan sejarah yang layak untuk dihargai dan dijelajahi.

Editor : Radar Digital
#majapahit #sejarah #banyuwangi