Radar Jember - Kerajaan Blambangan merupakan salah satu kerajaan bercorak Hindu yang terletak di ujung timur Pulau Jawa, tepatnya di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Banyuwangi.
Dikenal sebagai kerajaan Hindu terakhir di Jawa, Blambangan memiliki sejarah panjang yang penuh dinamika, mulai dari kejayaannya hingga keruntuhannya yang melibatkan berbagai pihak, termasuk VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), kerajaan-kerajaan Hindu di Bali, dan Kesultanan Mataram.
Kerajaan Blambangan diperkirakan mulai berkembang setelah runtuhnya Majapahit di akhir abad ke-15. Saat itu, wilayah Blambangan menjadi tempat perlindungan bagi keturunan kerajaan Majapahit yang tersingkir dalam perebutan takhta.
Blambangan kemudian berdiri sendiri sebagai kerajaan Hindu, dengan Bhre Wirabhumi sebagai salah satu raja pertamanya.
Wilayah ini menjadi sangat strategis, terutama karena dikelilingi oleh lautan, yang memudahkan perdagangan, termasuk dengan kapal-kapal yang menuju Maluku untuk berdagang rempah-rempah.
Kerajaan Blambangan mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Menak Pentor, putra Bima Koncar.
Di bawah kepemimpinannya, Blambangan menjadi kerajaan yang kuat dan makmur, dengan wilayah yang membentang dari ujung timur Jawa hingga Lumajang di selatan dan Panarukan di utara.
Blambangan juga memiliki pelabuhan strategis seperti Panarukan, yang menjadi salah satu persinggahan penting bagi kapal-kapal dagang yang melanjutkan perjalanan ke Maluku.
Pada masa ini, kerajaan Blambangan juga terkenal sebagai penghasil kuda dan budak yang banyak diperdagangkan.
Jumlah penduduknya yang besar hidup dalam kemakmuran karena panen yang melimpah. Kekuatan ekonomi ini menjadikan Blambangan sebagai kekuatan regional yang dihormati.
Namun, Blambangan tidak terlepas dari ancaman kerajaan-kerajaan lain, baik yang beragama Islam di barat, seperti Demak dan Mataram, maupun kerajaan Hindu di timur, seperti Gelgel dan Buleleng di Bali. Blambangan menjadi incaran banyak pihak karena kekayaannya dan lokasinya yang strategis.
Pada pertengahan abad ke-17, Blambangan berada di bawah kekuasaan Bali, sebelum akhirnya direbut kembali oleh Kesultanan Mataram pada tahun 1638. Namun, Blambangan tidak tinggal diam dan terus melakukan perlawanan.
Di bawah kepemimpinan Tawang Alun II, Blambangan berhasil melepaskan diri dari Mataram dan menjadi kerajaan yang independen lagi.
Sayangnya, pada akhir abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-18, Blambangan mulai mengalami kemunduran. Konflik berkepanjangan dengan Mataram, Bali, dan VOC menyebabkan sumber daya kerajaan terkuras.
Pada tahun 1743, Pakubuwana II dari Mataram menyerahkan Blambangan kepada VOC. Blambangan akhirnya jatuh ke tangan VOC setelah serangkaian perang, termasuk perang besar yang dikenal sebagai Puputan Bayu.
Puputan Bayu, yang terjadi pada 18 Desember 1771, merupakan peristiwa penting dalam sejarah Blambangan.
Perang ini dipimpin oleh Pangeran Jagapati yang bersama rakyat Blambangan melakukan perlawanan mati-matian melawan VOC.
Meskipun VOC akhirnya berhasil menaklukkan Blambangan, perlawanan rakyat Blambangan dikenang sebagai simbol keberanian dan semangat kemerdekaan.
Setelah kekalahan dalam perang Puputan Bayu, VOC membangun kota Banyuwangi di bekas pusat pemerintahan Kerajaan Blambangan.
Blambangan menjadi bagian dari wilayah kolonial Belanda, dan kekuasaan lokal dialihkan ke tangan bupati yang diangkat oleh Belanda.
Meskipun Kerajaan Blambangan telah runtuh, warisannya masih terlihat hingga hari ini. Di Banyuwangi, terdapat berbagai situs bersejarah yang menjadi saksi bisu kejayaan Blambangan, seperti Situs Umpak Songo di Desa Tembokrejo, yang diyakini sebagai peninggalan kerajaan tersebut.
Selain itu, legenda Menak Jingga dari Blambangan juga masih terjaga dalam cerita rakyat setempat.
Hari jadi Kabupaten Banyuwangi, yang diperingati setiap tanggal 18 Desember, diambil dari peristiwa puncak perang Puputan Bayu.
Tanggal ini dipilih untuk mengenang pengorbanan Pangeran Jagapati dan rakyat Blambangan yang berjuang melawan penjajahan VOC.
Penamaan Banyuwangi sendiri juga memiliki kaitan dengan cerita rakyat tentang Sritanjung dan Sidopekso, yang melambangkan kesucian dan ketulusan cinta.
Sebagai kerajaan Hindu terakhir di Jawa, Blambangan memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia.
Meskipun kini hanya tinggal dalam cerita dan situs-situs bersejarah, semangat perjuangan rakyat Blambangan tetap hidup dalam ingatan masyarakat Banyuwangi hingga saat ini.
Editor : Radar Digital