Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Danau Ranu Grati dan Tragedi Misterius Tenggelamnya Tank Amfibi, Benarkah Karena Meremehkan Sesepuh Desa?

Radar Digital • Sabtu, 27 Juli 2024 | 23:30 WIB
Danau Ranu Grati DOK RADAR BROMO
Danau Ranu Grati DOK RADAR BROMO

Radar Jember - Danau Ranu Grati, yang berada di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, mempunyai cerita menarik, sebuah tragedi misterius. Hingga kini, kisah tersebut masih sering diceritakan kepada anak-cucu.

Pada tanggal 17 Oktober 1979, sebuah peristiwa tragis terjadi ketika sebuah tank amfibi beserta seluruh prajurit di dalamnya tenggelam tanpa jejak di danau ini.

Hingga kini, bangkai tank dan para prajuritnya tidak pernah ditemukan, menambah misteri yang pada peristiwa ini.

Kejadian Tenggelamnya Tank Amfibi

Peristiwa ini dimulai dengan kedatangan beberapa tank dan Batalyon Zipur 10 Amfibi ke wilayah Grati.

Prajurit ABRI (kini TNI) ini berencana untuk melakukan latihan rutin di Ranu Grati, sebuah acara yang menarik perhatian anak-anak desa sekitar.

Bagi mereka, latihan pasukan amfibi merupakan tontonan yang sangat menghibur. Namun, bagi orang tua dan sesepuh desa, latihan tersebut menimbulkan rasa khawatir dan kecemasan mereka.

Mereka percaya bahwa Danau Ranu Grati dijaga oleh seekor ular besar bernama Nogo Baru Klinting.

Menurut mitos di masyarakat sekitar, ular tersebut bisa menelan siapa saja yang mengusik ketenangannya, termasuk para prajurit TNI AL jika mengganggunya.

Para sesepuh desa mencoba memperingatkan para prajurit untuk tidak menggelar latihan tanpa mengadakan ritual terlebih dahulu.

Beberapa sesepuh desa menyarankan agar prajurit melakukan ritual selamatan sebelum memulai latihan.

Ritual ini melibatkan memandikan pasukan amfibi dengan air bunga kamboja.

Ada juga yang menyarankan agar latihan ditunda karena dipercaya bahwa pagi itu Nogo Baru Klinting sedang mengadakan pesta dengan Ratu Pantai Selatan.

Namun, semua peringatan ini tidak diindahkan oleh penyelenggara latihan.

Mereka lebih mengandalkan hasil survei yang telah dilakukan sebelumnya dan percaya bahwa latihan dapat dilaksanakan tanpa masalah.

Rencana latihan tetap berjalan, dan tujuh unit tank amfibi diturunkan ke perairan Ranu Grati sesuai jadwal.

Sebelum latihan dimulai, terjadi perdebatan antara sesepuh desa dan anggota pasukan amfibi.

Hamzah seorang saksi mata, mengingatkan komandan latihan atas peringatan sesepuh desa bernama Sulihati yang mengatakan bahwa latihan yang akan dilakukan ini bisa mengganggu ketenangan Nogo Baru Klinting.

Namun, peringatan tersebut hanya dianggap sebagai cerita belaka oleh komandan dan para prajurit. Mereka bercanda dan tidak mempercayai legenda ular tersebut.

Sesepuh desa merasa kecewa karena saran mereka tidak didengar, namun pasukan amfibi tetap melanjutkan latihan dengan keyakinan bahwa persiapan mereka sudah cukup matang.

Latihan dimulai pada pukul 08.30 WIB. Pasukan amfibi memasuki tank masing-masing, menutup pintu rapat-rapat, dan mulai bergerak ke air.

Tanpa diduga, salah satu dari tujuh tank yang berkonvoi mengalami masalah dan tenggelam ke dasar danau.

Tank tersebut berada di sebelah kanan tank yang dinaiki Serka Sayyadi, salah satu saksi hidup dari kejadian tersebut.

Menurut cerita Serka Sayyadi, ia melihat bayangan ular besar membelit tank yang tenggelam.

Tank tersebut beserta prajurit di dalamnya ditelan oleh Nogo Baru Klinting dan hingga saat ini tidak pernah ditemukan.

Peristiwa ini menambah kepercayaan masyarakat sekitar akan legenda sang ular penjaga danau, Baru Klinting.

Untuk mengenang kejadian tersebut, TNI Angkatan Laut mendirikan sebuah monumen di sebelah timur danau.

Monumen ini berdiri sebagai pengingat akan peristiwa tragis yang menimpa prajurit-prajurit yang hilang pada 17 Oktober 1979.

Untuk saat ini pun, masih ada tradisi tradisi yang masih dilakukan oleh masyarakat sekitar Ranu Grati untuk menghormati leluhur Danau Ranu Grati.

Masyarakat setempat melakukan tradisi larung sesaji di Ranu Grati yang digelar setiap tahun, di bulan Muharram. Kegiatan ini dilakukan untuk melestarikan adat budaya dan doa pada leluhur.

 

Editor : Radar Digital
#Danau Ranu #Desa #pasuruan #danau ranu grati