Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Dugaan Hoarding Disorder Penghuni Kamar Kost di Jatiwaringin Ditemukan Penuh Sampah, Inilah Penjelasan Tentang Hoarding Disorder

Radar Digital • Sabtu, 20 Juli 2024 | 21:10 WIB
Sumber foto: Pinterest akun trashboat
Sumber foto: Pinterest akun trashboat

Radar Jember - Sebuah kamar kost di Jatiwaringin, Bekasi, yang ditemukan dalam kondisi penuh sampah dan barang berserakan. Pemilik kost, Siska Vizar, mencurigai bau menyengat dari kamar tersebut dan akhirnya memeriksa kamar setelah lama mengetuk.

Ketika melihat kondisi kamar, Siska merasa kaget tetapi memilih tetap tenang untuk menghindari keributan.

Video viral di TikTok menunjukkan hampir seluruh ruangan dipenuhi sampah dan barang menumpuk.

Siska meminta penghuni kamar untuk segera pindah paling lambat pagi hari. Setelah kejadian, penghuni yang diduga jarang berinteraksi dengan orang lain dan lebih introvert, telah meninggalkan kost tersebut.

Warganet berspekulasi bahwa penghuni tersebut mungkin mengalami hoarding disorder, yaitu kesulitan membuang barang karena merasa harus menyimpan benda-benda tersebut.

Lalu, apa itu hoarding disorder?

Dikutip dari Halodoc, pengertian hoarding disorder adalah gangguan perilaku di mana penderitanya kesulitan membuang barang karena merasa barang tersebut masih berharga atau akan berguna nanti.

Mereka mungkin juga merasa lebih aman dikelilingi oleh barang-barang tersebut.

Istilah hoarding disorder ini bisa diterjemahkan menjadi gangguan menimbun barang.

Penderitanya bisa menimbun berbagai macam barang, mulai dari pakaian, koran bekas, perabotan rumah tangga, atau benda lainnya yang mungkin sudah tidak terpakai atau rusak.

Akibatnya, tempat tinggal mereka bisa menjadi penuh sesak dan tidak bisa digunakan sebagaimana mestinya.

Penyebab gangguan Hoarding disorder ini juga tidak bisa dipastikan, bisa jadi karena keturunan ataupun hal lain.

Faktor risiko hoarding disorder belum sepenuhnya dipahami, namun beberapa kondisi bisa meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami gangguan ini. Berikut beberapa faktor risiko hoarding disorder:

Riwayat keluarga

Orang yang memiliki anggota keluarga dengan hoarding disorder lebih berisiko mengalami gangguan serupa. 

Pengalaman masa kecil

Beberapa pengalaman masa kecil, seperti tumbuh di lingkungan dengan ekonomi kurang atau barang-barang yang sering hilang atau dibuang, bisa menjadi pemicu hoarding disorder.

Kejadian traumatis

Kejadian traumatis, seperti kehilangan orang terdekat atau mengalami kekerasan, bisa menjadi faktor pemicu hoarding disorder.

Gejalanya termasuk dorongan kuat untuk menyimpan barang-barang, stres ketika mencoba membuangnya, dan ruang hidup yang penuh sesak sehingga menjadi tidak dapat digunakan.

Orang dengan Hoarding Disorder juga mungkin terlibat dalam akuisisi berlebihan, sering kali memperoleh barang-barang yang tidak dibutuhkan atau tidak ada tempat untuk menyimpannya. Keraguan, perfeksionisme, penundaan, dan penghindaran adalah perilaku umum yang terkait dengan kondisi ini.

Diagnosis biasanya dilakukan oleh profesional kesehatan mental berdasarkan kriteria yang dijelaskan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), seperti kesulitan terus-menerus untuk membuang barang dan penumpukan barang yang menyebabkan kekacauan.

Pilihan pengobatan meliputi Terapi Kognitif-Perilaku (CBT), obat-obatan seperti selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs), partisipasi dalam kelompok pendukung, dan kolaborasi dengan penyelenggara profesional.

Mencari bantuan dari profesional kesehatan mental sangat penting untuk penilaian yang tepat dan pengobatan yang efektif.

Editor : Radar Digital
#Disorder #kos #Viral