KEPATIHAN, Radar Jember - Pengikut Yesus Kristus pasti tidak asing dengan nama daun palma. Ini digunakan sebagai penyambutan Yesus di Jerusalem atau dikenal sebagai Minggu Palma. Hal tersebut menjadi peringatan setiap tahun bagi umat Katolik.
Kepala Gereja Katolik Santo Yusuf Pastur Yoseph Utus O Carm mengatakan, filosofi dari daun palma melambangkan kesederhanaan raja yang diagungkan, yakni Yesus Kristus. Pada waktu itu warga menyambut dengan daun sejenis daun palma. "Walaupun sambutannya sederhana, namun memiliki makna yang sangat tinggi," ujarnya di Gereja Santo Yusuf, Kamis (21/3).
Menurutnya, daun palma akan digunakan dalam ibadah pada hari Minggu. “Di dalam Al Kitab tidak ada nama daun palma. Kalau di dalam Al Kitab hanya disebut dedaunan," paparnya.
Penggunaan daun palma pada perayaan Minggu Palma bukan tanpa sebab, melainkan ada makna di baliknya. Yakni kemenangan Yesus atas maut. “Sebelum disalib untuk mengorbankan nyawanya, dirinya disambut dengan gembira oleh para pengikutnya," jelasnya.
Dia juga menyampaikan, saat Yesus masuk ke Yerusalem, dia menggunakan keledai, yang memiliki makna kesederhanaan dan perdamaian. Minggu Palma tidak hanya memperingati masuknya Yesus ke Yerusalem. Akan tetapi mengingatkan akan kesengsaraan Yesus.
Menurutnya, para jemaat akan diingatkan setelah dielu-elukan, ada proses sengsara yang Yesus lewati sehingga pekan suci juga disandingkan dengan minggu sengsara. "Setelah merayakan Minggu Palma, Kamis Putih, dan Jumat Agung, dirinya juga mengalami Minggu sengsara," katanya.
Minggu Palma pun menjadi perayaan yang selalu dilaksanakan setiap tahun, untuk memperingati pengorbanan Yesus dalam memperjuangkan agama dan pengikut-pengikutnya. "Ini rutin dilakukan untuk mengenang," pungkasnya. (mg1/c2/nur)
Editor : Radar Digital