WONOGIRI, RADARJEMBER.ID - Apabila terkena kencing tikus atau leptospirosis bisa mengganggu kesehatan manusia, bahkan kencing tikus ini bisa menimbulkan kematian bila terlambat mendapatkan pertolongan.
Di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, warga semakin cemas terhadap serangan penyakit leptospirosis tersebut.Bahkan penyakit tersebur dikabarkan mulai mengganas di kabupaten tersebut.
Pemerintah setempat dalam hal ini dinas kesehatan mewanti-wanti warga agar lebih mewaspadai leptospirosis .Mengingat siapapun bisa tertular oleh urine alias kencing tikus karena terpapar bakteri leptospira.
Sejak awal 2023, ditemukan puluhan kasus penyakit itu. Satu pasien meninggal dunia.Satya Prawirohardjo, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Wonogiri mengatakan, periode Januari-Mei 2023 tercatat 49 kasus leptospirosis di Wonogiri.
Jumlah itu jauh lebih banyak dibandingkan pada periode sama di 2022.Sebanyak 49 kasus ditemukan sejak awal tahun ini tersebar di sejumlah kecamatan, yakni Jatisrono (10 kasus), Slogohimo (7 kasus) Wuryantoro (5 kasus), Manyaran (5 kasus), Jatipurno (4 kasus).
Berikutnya Purwantoro (4 kasus), Kismantoro (3 kasus), Bulukerto (3 kasus), Eromoko (2 kasus), Jatiroto (2 kasus), Baturetno (1 kasus), Karangtengah (1 kasus), Pracimantoro (1 kasus) dan Girimarto (1 kasus).
“Dari 49 kasus sejak awal tahun ini, ada satu kasus kematian akibat leptospirosis. Untuk periode yang sama di tahun lalu, tidak ada yang meninggal dunia,”papar Satyawati.Wanita akrab disapa Watik itu menerangkan, kasus kematian terjadi di wilayah Kecamatan Jatisrono.
Korban adalah seorang petani berusia 80 tahun. “Berdasarkan penelusuran, ada catatan bersangkutan sebelumnya menangkap tikus tanpa APD (alat pelindung diri), padahal itu penting untuk mencegah leptospirosis,” terang Watik.
Menurut dia, rata-rata kasus leptospirosis di Wonogiri adalah penderitanya diduga terpapar usai beraktivitas di area persawahan. Namun, juga ada sebagian kecil kasus yang diduga terpapar di rumah.
Penyebab kenaikan kasus leptospirosis? Watik mengatakan, adanya potensi pertambahan populasi tikus. Sebab di luar negeri seperti di Prancis, diketahui ada ledakan populasi tikus.Diduga, suhu atau iklim (faktor alam) saat ini mendukung peningkatan populasi tikus.
“Gropyokan tikus sebenarnya dianjurkan. Tapi kami di Wonogiri belum melakukan. Kami evaluasi peningkatan kasus leptospirosis di 2023. Penanganan dilakukan lintas sektoral,” imbuh perempuan itu.
Mengantisipasi leptospirosis di area persawahan, warga bisa menggunakan alat pelindung diri (APD) berupa sepatu boot atau sarung tangan. Sementara untuk pencegahan di rumah, bisa meminimalkan potensi terpapar kencing tikus di alat makan dan makanan.
Seperti menutup dan mengamankan alat makan dan makanan dari jangkauan tikus. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) harus diterapkan. “Di rumah juga bisa dilakukan pemasangan perangkap tikus. Lebih aman dengan perangkap dibandingkan racun tikus,” pungkas Watik. (*)
Editor:Winardyasto HariKirono
Foto:Iwan Adi Luhung/Jawa Pos Radar Solo
Sumber Berita:Jawa Pos Radar Wonogiri
Editor : Safitri