Nerdasarkan keterangan dari Badan Meteorologi klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tanjung Perak menyebut puncak kemarau akan terjadi antara bulan September dan Oktober dengan temperatur mencapai 40 derajat Celsius.
“Sekarang telah memasuki fase kemarau. Secara klimatologi sudah masuk cuaca ekstrem,” jelas Muhammad Arif Wiryono, Kepala Forecaster BMKG Tanjung Perak, Rabu (7/6). Dia menjelaskan, tahun ini kemarau akan lebih panjang.
Tidak ada hujan setiap bulan “Fase anomali ini disebabkan oleh suhu muka laut lebih panas dan ditambah saat ini sudah memasuki angin timur dengan kecepatan 13 knot,”ucap Arif. Ia menambahkan, pada bulan Oktober posisi matahari akan sejajar atau di atas Kota Surabaya.
Sehingga udara semakin panas “Panasnya bisa menyebabkan 40 derajat Celsius,” imbuh Arif. Karena itu, dia mengimbau warga untuk mengonsumsi air dalam jumlah banyak agar tidak dehidrasi.
“Pakai topi atau payung jika ke luar rumah agar tidak terkena sinar matahari langsung,” imbau dia,Sementara itu, Wahid Dianbudiyanto, pengamat lingkungan Universitas Airlangga menerangkan, El Nino merupakan fenomena alam dan harus disikapi.
Dimana air laut di Samudera Pasifik lebih panas daripada suhu biasanya. El Nino merupakan fenomena yang cukup sering terjadi. Peristiwa El Nino tercatat pada tahun 1982-1983 dan 1997-1998.
“Itu yang paling intens pada abad ke-20,” katanya. Wahid memprediksi tahun ini El Nino akan datang ke Indonesia pada bulan Agustus. Dampaknya berupa kekeringan yang ekstrem. “Delapan tahun lalu Indonesia kurang siap sehingga dampaknya cukup berat,” pungkas dia.(*)
Editor:Winardyasto HariKirono
Foto:Andy Satria/Jawa Pos Radar Surabaya
Sumber Berita:Jawa Pos Radar Surabaya
Editor : Alvioniza