BACA JUGA : Polsek Panti Bekuk Lansia Pembobol Rumah, Sudah Tiga Kali Dipenjara
Sempat khawatir karena tertunda, pasangan suami istri asal Pulokulon, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah ini bisa bernafas lega. Mereka dipastikan berangkat dengan kelompok terbang (kloter) dari Embarkasi Solo.
CJH tertua asal Grobogan tampak sibuk menata barang bawaan ketikaberada di Gedung Makkah Lantai 2 Blok A-6m di sela kesibukan pembagian kamar calon haji (CJH) kelompok terbang (kloter) kedua .
Postur tubuh perempuan memang tak lagi tegap dan sedikit bungkuk karena faktor usia terlihat tergopoh-gopoh keluar dari kamar. Ia mengenakan baju bunga-bunga serta tas selempang hitam dengan jilbab merah besar. Dia sempat memamerkan sandal baru berwarna putih.
“Sepatu saya itu pedot, jebol mbak, pas mau tekan kene (sepatu saya putus, jebol mbak tadi saat tiba di sini, Red). Ini beli baru,” jelas Pariyem sambil mengumbar senyum.Dia dan suamin tercinta sudah mendaftar haji sejak 2011 silam.
Selama 12 tahun mereka menunggu keberangkatan haj dari hasil tabungan berahun-tahun. Harapannya sempat pupus pada 2020 silam sesuai jadwal kursi keberangkatan. Karena saat itu pandemi melanda.
Namun pasutri itu masih tenang menunggu. Di tahun 2022 saat kran ibadah haji kembali dibuka. Lagi-lagi, mereka tidak bisa ikut karena pembatasan usia lanjut usia (lansia). Baru tahun ini pasutri tersebut mendapat panggilan berangkat ke Tanah Suci.
“Alhamdulillah. Hati ini senang sekali. Setelah menunggu 12 tahun, bisa dipanggil ke Tanah Suci,”tandas dia.Sehari-hari, Pariyem dan Gayem bekerja di ladang. Meski berjalan kaki berdua, baginya tak masalah.
Namun, di usia lanjut, menggarap ladang cukup luas bukan perkara mudah. Dia lantas meminta bantuan beberapa tetangga saat masa tanam dan panen.Dalam setahun, ada tiga jenis tanaman mereka tanam.
Saat musim penghujan, mereka akan menanam padi. Kemudian saat musim kemarau melanda, ditanami kedelai, lalu dilanjutkan jagung. Modal dikeluarkan mencapai Rp 10 juta. Itupun untuk biaya bibit serta membayar tenaga pembantu
. Biasanya dia bisa mendapat Rp 5 juta sekali panen. Alias harus berpuasa dan menunggu 3-4 bulan. Uang itu dikunpulkan sedikit demi sedikit lantas dibelikan tanah atau ternak. Begitu masa pelunasan, tabungan tanah dan ternak dijual untuk menutup biaya haji.
“Menabung cukup di rumah bukan di bank, disisihkan sedikit-sedikit. Alhamdulillah bisa lunas Rp 49 juta untuk satu orang. Jadinya pelunasan sampai Rp 100-an juta. Kan bapak juga bantu jualan sapi (blantik) ke pasar. Bapak lebih setiti (berhemat).”jelas dia.
Resep pasutri tetap tampak sehat, adalah membuat suasana rumah selalu senang. Setiap subuh, pasutri lansia ini akan bersama-sama ke masjid. Apalagi, dia masih aktif mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Baik memasak untuk rumah dan para tenaganya di ladang. Selain itu, setiap hari Pariyem dan Gamin selalu berladang. Aktivitas tersebut membuat kedua orang tersebut masih bugar dan tanpa alat bantu.
“Sering ikut pengajian ke mana-mana. Kunci sehatnya ya tetap aktivitas di ladang, bertani. Kemana-mana jalan kaki, ya panas tetap dilakoni (Dijalani) dengan tenang dan legawa, Alhamdulillah, masih sugeng (sehat) dan bisa berangkat sama bapak,” pungkas dia.(*)
Editor:Winardyasto HariKirono
Foto: Ragil Listiyo/Jawa Pos Radar Solo
Sumber Berita:Jawa Pos Radae Solo
Editor : Safitri