BACA JUGA : Cegah Abrasi, Pelajar dan Warga di Jember Tanam Mangrove di Pantai Cemara
Pria tersebut membuat gambar animasi laris dilirik oleh penggemar komik. Tak jarang, ada yang memesan gambar animasi komik. Bahkan, ada yang berasal dari Jepang dan sejumlah negara lainnya.
Karyanya tidak asing di kalangan para remaja. Komik Combat, Rahasia Bumi, Misteri Penjaga Hutan, Hiatus dan yang paling digemari komik berjudul Bratasena. Judul komik lainnya, Ratu Ilmu Hitam, Misteri Bulan Raksasa, Daya Perempuan Tidak Menangis, Knock Out, dan Fanatik.
Namun sekarang pemuda Desa Gempolsewu ini sudah tidak mampu berkarya lagi. mengalami kebutaan setelah kaki kirinya diamputasi. Kondisinya juga memprihatinkan. Ia tinggal bersama kedua kakaknya di rumah mungil.
Agung –sapaan akrabnya– mengatakan, sebelum menderita penyakit gula, dia sangat aktif menggambar untuk cerita komik. Ia juga sempat bekerja di Semarang dan menjual karyanya untuk memenuhi kebutuhan hidup.
“Sekarang saya cuma mengandalkan kakak saja. Saya tidak bisa beraktivitas sendiri,”jelas Agung kepada Jawa Pos Radar Semarang. Kehidupan Agung berubah drastis setelah menderita penyakit diabetes. Kedua orang tuanya juga sudah meninggal.
Untuk beraktivitas, ia harus dibantu oleh kedua kakaknya. Sehari-hari dia hanya berada di atas kasur. Saat akan ke kamar mandi, Agung harus memanggil kakaknya untuk membantu.
Agung mengatakan, kakak pertamanya kini menjadi tulang keluarga bekerja serabutan.
Terkadang, kakaknya melaut mencari ikan, kemudian dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup. “Setiap hari saya di rumah. Kakak pertama yang kerja, dan kakak kedua yang merawat saya di rumah.”imbuh Agung.
Saat diperhatikan, Agung seperti bisa melihat layaknya orang normal, karena kedua matanya terlihat baik-baik saja. Namun dia mengaku pandangannya gelap. Kondisinya semakin parah sejak satu tahun terakhir. Dia juga sudah berobat ke beberapa rumah sakit.
Meski begitu, upayanya tidak membuahkan hasil. “Dokter menyarankan agar kaki kiri saya diamputasi, karena diabetnya di sekitar situ. Saya pun melakukan karena biar sehat. Tapi, setelah kaki dipotong kok pandangan saya jadi gelap gitu.”kata Agung.
Wahyu Prayogo, kakak kandung Agung mengatakan, adiknya hanya bisa melakukan aktivitas di atas kasur saja. Bahkan untuk makan saja harus dibantu orang lain. Karena itu, dia berharap agar ada uluran tangan dermawan bisa membantu adiknya.
“Paling tidak adik saya bisa melihat dulu. Karena saya pribadi juga tidak mampu untuk membiayainya berobat.” ucap Wahyu. Iamenambahkan, sehari-hari ia hanya makan seadanya bersama adik dan kakaknya.
Dia juga tidak bisa berbuat banyak karena keterbatasan ekonomi dan kemampuan. Dia ingin agar adiknya mendapatkan pengobatan yang layak. Terlebih, semangat hidup Agung sangat tinggi. “Semoga ada bantuan dari pemerintah maupun dermawan.”pungkas Wahyu.(*)
Editor:Winardyasto HariKirono
Foto:Istimewa
Sumber Berita:Jawa Pos Radar Semarang
Editor : Safitri