BACA JUGA : Gunung Karangetang Waspada Level II, Gempa Guguran Kembali Terekam
Di jaman serba canggih saat ini, pamor jajanan ini kiam redup bahkan hilang ditelan bumi. Tak sanggup menghadapi gempuran jajanan kekinian. Di Sukoharjo, jajanan ini sudah tidak lagi mudah ditemukan.
Di era keemasan, dipastikan keberadaan penjual arum manis di setiap sekolah taman kanak-kanan (TK) atau sekolah dasar (SD) bisa ditemui. Namun, ada satu penjual arumanis atau rambut nenek.Di Sukoharjo sendiri penjual penganan tersebut tinggal satu orang saja.
Dia adalah Sutopo, 60 warga Badran, Kecamatan Bendosari, Sukoharjo, berjualan di Alun-Alun Satya Negara, Sukoharjo dan telah berjualan selama sepuluh tahun terakhir ini..”Iya sudah jarang sekarang. Saya baru 10 tahun jualan rambut nenek,”ucap Sutopo.
Menurut lelaki itu rambut nenek buatanya berbahan gula pasir dengan bumbu bawang merah. Bawang merah membuat rasa rambut nenek sedikit lebih gurih dan warnanya menjadi kekuningan.
”Ya hanya gula pasir saja sama bawang merah, untuk bikin warnanya ini dan aroma. Jadi selaim rasa manis ada pulas rasa gurih,” imbuh Sutopo. Gula dan bawang merah dihaluskan cukup disangrai sampai menjadi lembek.
Namun, untuk membentuk rambut nenek ini, butuh tenaga cukup ekstra dan butuh waktu lama. Karena, adonan harus ditarik-tarik untuk menjadi helai-helai rambut. Jadi sebaiknya bagi adonan gulali menjadi dua atau tiga agar lebih mudah.
”Butuh waktu satu jam untuk memasak. Lalu untuk menjadi rambut ini butuh tiga orang. Karena berat, harus ditarik-tarik supaya jadi helai-helai rambut,”terang Sutopo.Dia setiap kali membuat rambut nenek dan butuh 5 kilogram gula pasir dan 500 gram bawang merah
Namun, tidak langsung habis. Rambut nenek bikinnya baru empat sampai enam hari habis dijual, lalu harus membuat lagi.”Ini awet, tanpa bahan pengawet. Karena bahan bakunya alami. Lha cuma gula sama bawang merah,”tandas dia.
Namun perlu diingat, mengonsumsi rambut nenek berlebih bukanlah hal baik. Pasalnya, rambut nenek ini memiliki kandungan gula sangat tinggi. Terlebih apabila ditambahkan dengan minuman kekinian manis, maka kadar gula tentu akan semakin bertambah. (*)
Editor:Winardyasto HariKirono
Foto:Iwan Kawul/Jawa Pos Radar Solo
Sumber Berita:Jawa Pos Radar Solo
Editor : Safitri