BACA JUGA : Tanamkan Nilai Cinta Budaya, Gelar Seni Budaya Akan Berlangsung Empat Hari
Bahkan, permintaan grubi mencapai 100 persen pada momentum tersebut. Banyak reseller menambah stok untuk memenuhi permintaan konsumen.Dusun Jetis, Menoreh, Salaman menjadi daerah dijuluki kampung grubi lantaran sebagian besar warga bekerja sebagai pembuat grubi.
Grubi merupakan makanan khas Magelang dan sudah ada sekitar tahun 1980-an dan masih tetap bertahan sampai dengan sekarang.Jajanan ini berbahan dasar ketela atau ubi jalar dengan cita rasa manis legit khas gula jawa.
Berbentuk bola-bola kecil berongga dengan tekstur renyah. Selama Ramadan dan Lebaran, produksi grubi meningkat hingga 100 persen dibanding hari biasa. “Pesanan melonjak. Apalagi menjelang Lebaran kemarin,” ujar Sri Purwanti, pemilik home industry Brayan Grubi.
Bahkan, satu hari sebelum Lebaran, ia sendiri sempat menutup pesanan. Namun, produksi grubi kembali dilakukan tiga hari setelah Lebaran. Mengingat permintaan grubi terus berjalan dan tingkat penjualan di pasaran masih tinggi.Grubi biasa digunakan sebagai oleh-oleh.
Setiap harinya, rata-rata dia bisa menghabiskan 3 hingga 3,5 kuintal ubi. Namun, jika sudah diolah, bisa menghasilkan hingga 150 kilogram (kg) grubi. Menjelang Lebaran kemarin, dia hanya bisa menambah sebanyak 50 persen atau 1 hingga 1,5 kuintal ubi.
Pembuatan grubi dimulai dengan membersihkan ubi dari sisa-sisa tanah maupun kotoran lain. Kemudian, dikeringkan. Tahap selanjutnya yakni memotong ubi menjadi lembaran-lembaran seperti keripik, lalu dirajang hingga menyerupai mi.
Setelah itu, digoreng menggunakan minyak panas. Namun, kata dia, ketika setengah matang, baru dimasukkan gula dan diaduk hingga merata. Proses penggorengannya pun masih dikerjakan secara manual dan menggunakan bahan baku kayu sebagai bahan bakarnya.
Ubi yang sudah matang, ditiriskan dan dibentuk menjadi bulatan kecil.Grubi sudah jadi kemudian dikemas dengan menggunakan wadah mika plastik beralaskan kardus tebal. Setiap mika, diisi sebanyak 42 butir grubi.
“Kalau saya jualnya ke reseller atau grosir Rp 9.250. Kalau satu bal ya Rp 92.500. Harganya berbeda tiap produsen. Memang di sini paling mahal, tapi kualitasnya bagus,” urainya.Setiap harinya, dia dibantu 12 orang yang merupakan warga setempat.
Karena memang dia ingin memberdayakan warganya. Untuk para reseller, kata dia, akan mengambil secara pribadi ke tempatnya. Mengingat penjualannya juga sudah merambah ke beberapa daerah seperti Wonogiri, Jogja, Jawa Timur, hingga luar Jawa.
Namun, dia menambahkan, setiap malam akan mengirimkan grubi ke pedagang di Pasar Gotong Royong, Kota Magelang. Khusus untuk kemasan eceran Rp 1.600 yang berisi 6 grubi. Bentuknya pun lebih pipih karena menyesuaikan dengan wadahnya.
Selain itu, dia juga memasarkan produknya secara online. Dibantu oleh sang adik. Sekali kirim, kata dia, bisa mencapai 50 koli atau 25 hingga 30 kg. Namun, grubi produksinya mampu bertahan maksimal 3 bulan. Tapi, tergantung dengan keadaan. (*)
Editor:Winardyasto HariKirono
Foto:Naila Nihayah/Jawa Pos Radar Jogja
Sumber Berita:Jawa Pos Radar Solo
Editor : Safitri