BACA JUGA : Status Gunung Karangetang Turun Menjadi Waspada Level II
Kegiatan rutin dia lakukan selepas selesai bekerja sebagai kuli bangunan.Tak terkecuali sore itu, Rabu (12/4). Ketika matahari akan terbenam di ufuk, dua pemuda bersaudara ini pergi ke tepi sungai. Berbekal pancing dan perkakas tambahan.
Perkakas tambahan ini biasa digunakan untuk menangkap hewan selain ikan.Terutama bila bertemu bulus atau nyambek.“Ada tang, karet, senar, brutu (pantat ayam, Red), dan jaring. Semua ada di tas,” kata Mulik.
Ketika tengah mengamati permukaan sungai, sekelebatan Sugito melihat ada hewan bergerak di bantaran. Tubuh hewan itu panjang, mirip biawak. Merangkak saat senja mulai menapaki sore itu.“Nyambek…nyambek….,” jerit Sugito.
Bergegas dua bersaudara itu mendatangi tempat hewan itu merayap. Namun, sudah tidak terlihat lagi. Keduanya pun berusaha mencari.“Kuwi lho rong-rongan, paling ndelik neng kono (itu ada liang, mungkin bersembunyi di situ, Red),” ucap Sugito, diceritakan kembali oleh sang kakak.
Sugito pun nyogok lubang itu dengan bambu dan dia temukan di tepi sungai. Seketika munculah moncong panjang, khas milik reptilia dikenal buas, buaya. “Baya…baya…baya…,” teriak pemuda itu terkaget-kaget.
Sadar akan kemunculan hewan buas, Sugito spontan menyabetkan celurit. Dua kali, namun kedua mental karena menghantam kulit keras hewan melata ini.Kedua pria ini tergolong berani. Karena begitu sang buaya keluar lubang mereka segera melempar celurit dipegang.
Kemudian melompat ke punggung buaya. Yang satu mendekap bagian moncong. Yang lain memegangi ekornya.“Tak sempat berpikir panjang. Sebenarnya takut tapi mau bagaimana karena jaraknya dekat. Tak sampai dua meter,” aku Mulikkebagian mendekap bagian moncong buaya.
Sugito, segera melakukan hal serupa seperti kakaknya, sigap mengambil tali karet ada di tas punggung. Dengan perasaan panik dia mengibas-kibaskan tali karet itu. Berusaha mengikat moncongnya terlebih dulu. Setelah berhasil dia memutar tubuh. Ganti mengikat bagian ekor.
Saat bergumul itu, keduanya berada di air tak dalam. Hanya 20 sentimeter.“Kalau di depan liang (air) hampir sepaha. Lebih sulit bila buaya ada di tempat itu.”jelas Sugito.Mereka tidak manyangka bila buaya mereka tangkap sebesar itu.
Binatang ganas tersebut memiliki panjang dua meter. Awalnya mereka mengira lebih kecil. “Waktu diseret baru kaget lihat ukurannya. Ternyata besar. Kalau di air terlihat kecil.” Imbuh Sugito.
Buaya mereka tangkap itu satu dari empat ekor buaya terlihat di sungai itu. Diperkirakan, buaya-buaya tersebut merupakan piaraan orang yang entah sengaja atau tidak lepas ke sungai. Yang ditangkap dua bersaudara ini bukanlah terbesar.
Masih ada dua ekor lagi, salah satunya bertubuh paling besar. Sedangkan yang lain berukuran paling kecil. Satu ekor lagi sudah tertangkap tahun lalu.Mulik mengatakan tak bisa membayangkan bila mereka menemukan itu buaya dengan ukuran paling besar.
Apakah dia berhasil menangkap dengan mudah atau justru mereka yang celaka.“Cara baya sing gedi nubruk awake dewe, menghindar wis ora sempat (seandainya saja buaya yang besar menabrak kami, menghindari sudah tak sempat, Red),” ucap Mulik.
Penangkapan buaya itu sejatinya tak mulus. Mulik mengatakan jarinya sempat tersangkut gigi sang buaya. Ketika dia berusaha menali. Untungnya, pengalaman puluhan kali menangkap biawak membuat mereka sedikit punya trik menjinakkan.(*)
Editor:Winardyasto HariKirono
Foto:Asad
Sumber Berita:Jawa Pos Radar Kediri
Editor : Safitri