BACA JUGA : Seluruh Terminal yang Dikelola Pelindo Siap Layani Arus Balik Lebaran
Salah satu penyebabnya, kondisi membahayakan lingkungan sekitar sehingga mereka orang gila terpaksa dipasung oleh keluarga. Bahkan saat ini di Kabupaten Jombang tercatat ada 15 orang gila terpaksa dipasung menggunakan rantai.
”ODGJ berperilaku merusak, membahayakan diri sendiri dan lingkungan sekitar, sehingga keluarga memilih memasung,” kata drg Budi Nugroho Kepala Dinas Kesehatan Jombang, melalui Haryo Purwono, Kasi P2P , beberapa waktu lalu.
Ia menerangkan, bentuk pemasungan beragam. Dari 15 kasus ada, satu dipasung menggunakan batang kayu atau dibekok. Enam kasus lainnya dengan cara dirantai, dan delapan kasus dikurung. Pihaknya tak berani menarget kapan 15 ODGJ itu terlepas dari pasungan.
Sebab, kondisi ditemukan di lapangan berbeda-beda. ”Kami upayakan satu tahun 1-2 kasus bisa dilakukan perlahan, upaya yang lebih dilakukan memang promotif preventif.”jelas Haryo.ODGJ dilakukan pelepasan pasung secara berkala.
Biasanya dilepas dalam beberapa jam dengan diawasi, dan diajak berkeliling ke sekitar rumah. Agar ODGJ terbiasa mengenal lingkungan, dan terbiasa bersosialisasi dengan masyarakat sekitar tempat tinggalnya.
Sehingga, setelah lepas pasung, mereka bisa aman dan tidak membahayakan masyarakat sekitar lagi.”Jadwalnya tidak mesti, berapa minggu sekali, tergantung pengelola program keswa (kesehatan jiwa).”imbuh pria itu.
Sementara pengobatan tidak dilakukan ke seluruh ODGJ yang berupa pasung. Sebab, ada ODGJ dengan tambahan retardasi mental atau berkebutuhan khusus, serta tiga keluarga menolak pemberikan injeksi. Padahal, injeksi diberikan setiap tiga bulan sekali.
Dampak dari injeksi diberikan bisa seperti ngiler, menceng, kaku-kaku, dan berjalan seperti robot. Namun, jika terjadi dampak seperti itu, akan ditambahkan obat penawar untuk mengembalikan kondisi tubuh. (*)
Editor:Winardyasto HariKirono
Foto:Istimewa
Sumber Berita:Jawa Pos Radar Jombang Editor : Safitri