Para santri pun tampakmengitari lapangan. Usut punya usut para santri ini menunggu pertandingan sepak bola api. Kegiatan tersebut sengaja dilakukan setiap santu alias malam minggu sehingga tifak menganggu aktivitas mereka di pondok. Boleh dibilang kegiatan itu telah berlagsung lama dan menjadi bagian dari tradisi pesantren tersebut.
Sayangnya, permainan ini hanya dilakukan ketika Ramadan. Itu pun tidak berlangsung setiap malam. Hanya pada waktu-waktu tertentu terutama malam minggu. Hal ini dibenarkan oleh Gus Agus Hasan Muktaksim Billah, Pengasuh Pesantren Bani Rancang mengatakan, permainan atau pertandingan bola api merupakan tradisi dilakukan sejak dulu.
Permainan lima lawan lima santri ini uma dilakukan ketika Ramadan. Waktunya menyesuaikan jadwal dari pesantren.“Para santri ini bermain bola api merupakan tradisi dilakukan saat Ramadan, sejak dulu. Kami sebagai generasi muda harus meneruskan atau melestarikanya,” terang Gus Hasan
Menurutnya, tradisi bola api digemari oleh para santri. Tidak hanya pemain yang merupakan santri laki-laki, santri perempuan juga ikut bersorak ketika pertandingan berlangsung. “Agar para santri tidak sakit atau kepanasan saat bermain, sebelum bermain kami lakukan pembacaan doa bersama,” imbuh dia.
Tak kalah pentingnya, kata Gus Hasan, dalam tradisi permainan bola api, diharapkan muncul rasa hangat, saling merangkul, dan memiliki satu sama lain, sehingga tali silaturahmi kian erat. “Juga sebagai kegiatan menghibur bagi para santri untuk menghilangkan rasa jenuh,” imbuh Gus Hasan.(*)
Editor:Winardyasto HariKirono
Foto: Istimewa
Sumber Berita: Jawa Pos Radar Bromo
Editor : Alvioniza