Angka Kematian Kanker Tinggi Akibat Diagonis Terlambat

Safitri • Dipublikasikan Senin, 20 Februari 2023 | 21:40 WIB
Photo
Photo
JAKARTA, RADARJEMBER.ID - Jumlah penderita kanker di Indonesia saat ini masih tinggi. Berdasar data Globocan pada 2020, total kasus baru kanker hampir 400 ribu.

Terdapat tiga jenis kanker memiliki angka kematian masih terhitung tinggi. Seperti Kanker payudara (16,6 persen), kanker leher rahim atau kanker serviks (9,2 persen), dan kanker paru (8,8 persen).

BACA JUGA : Reaktualisasi Nilai-Nilai KKN di Era Pembangunan Nasional

Ketiga jenis kanker itu memiliki angka kematian tinggi, umumnya dipengaruhi juga karena diagnosis penyakit terlambat atau tertundanya pengobatan. Chospiadi Irawan, Ketua umum PP Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) mengatakan, sangat penting untuk melakukan deteksi dini penyakit kanker. Jika diketahui dari awal, penanganan bisa lebih mudah.

”Namun sayangnya, saat ini masyarakat Indonesia belum sepenuhnya menyadari untuk periksa dan deteksi dini,” ujar Cosphiadi Irawan. Menurut dia, deteksi dini di Indonesia masih timpang. Sebab, 70 persen pasien datang  berobat dalam kondisi sudah stadium 3 dan 4,

Deteksi dini kanker leher rahim dapat dilakukan melalui metode Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) atau pap smear. Deteksi dini kanker payudara dilakukan dengan metode periksa payudara klinis (sadanis), atau mamografi pada post menopause atau USG payudara pada premenopause.

Berdasar laporan kementerian kesehatan, sepanjang 2019-2021 terdapat 2.827.177 perempuan usia 30-50 tahun telah menjalani dua jenis deteksi dini kanker tersebut. Jumlah itu baru mencapai 6,83 persen dari sasaran nasional.

Rendahnya cakupan itu, menurut dia, diduga karena kurangnya kesadaran masyarakat terkait pentingnya deteksi dini sebelum penyakit berkembang. ”Deteksi dini merupakan hal penting karena berkaitan dengan angka kesembuhan tinggi.”imbuh  Chospiadi.

Selain itu kata Chospiadi, pembiayaan lebih murah dan angka harapan hidup tinggi. Deteksi dini merupakan tanggung jawab semua pihak. Penyakit kanker di Indonesia, lanjut dia, terjadi pada rata-rata usia lebih muda serta lebih agresif.

Angka kekambuhan, perburukan, dan kematian kanker di Indonesia memperlihatkan angka lebih tinggi dibanding data regional maupun global. Dalam upaya menekan penyakit kanker saat ini masih ada kesenjangan yang terjadi.

Misal, kurangnya pemahaman dan kesadaran masyarakat sendiri untuk menjalankan deteksi dini. Kemudian, ketimpangan jumlah fasilitas penanganan kanker di berbagai daerah dan RS, terbatasnya jumlah tenaga medis khusus kanker dan penyebarannya yang tidak merata.

”Tema World Cancer Day 2023 adalah Close The Care Gap. Ini dapat dijadikan momentum akselerasi perbaikan pelayanan kanker di Indonesia,”terang Reni Wigati,Plt Direktur Medik Keperawatan dan Pelayanan Penunjang Kementrian Kesehatan.

Close the Care Gap menekankan pentingnya menutup kesenjangan dalam penanganan kesehatan, khususnya kanker. Dengan tema tersebut diharapkan kesenjangan terjadi terhadap pelayanan kanker dapat teratasi dan pasien pasien kanker mendapatkan pelayanan terbaik

Sementara itu, Ari Dwi Aryani. Deputi Direksi Bidang Kebijakan Penjaminan Manfaat BPJS Kesehatan menjelaskan, kanker merupakan penyakit yang memerlukan biaya besar. Bahkan di BPJS Kesehatan, penyakit itu masuk dalam lima besar dalam hal pembiayaan terbesar.

Dia menambahkan, jaminan sosial itu seperti jaring. Ketika ada masyarakat sakit dan terdaftar menjadi peserta BPJS kesehatan, jaring pengaman harus bisa memastikan orang tidak jatuh miskin karena sakit.

Editor : Winardyasto HariKirono

Ilustrasi: Pixabay

Sumber Berita:jawapos.com

  Editor : Safitri
Kanker