Didampingi puluhan warga setempat, Himatul Aliyah mendatangi pesantren yang yang dibeli dari ayahanda dan hasil wakaf tersebut, Senin (13/2) malam. Keluarga Bu Nyai dan warga itu juga mencium gelagat ganjil keluarga FM, karena selama ini mereka tinggal leluasa di pondok tanpa ada pemberitahuan atau izin dari tokoh yang berwenang di sekitar pondok.
Saat Himatul Aliyah masuk ke pondok di Dusun Krajan RT 01 RW 01, Desa Mangaran Kecamatan Ajung, Jember, ia bersama keluarga juga sempat diadang dan tidak dibukakan pintu oleh keluarga FM. Barulah setelah ada ketegangan dan dimediasi oleh tokoh setempat, ia dibukakan pintu.
BACA JUGA: Warga Geruduk Ponpes Tersangka Pencabulan Santri di Jember, Tuntut Ini!
Saat masuk ke pondok, Himatul Aliyah kaget bukan main. Semua perkakas dan barang berharga miliknya di pondok, mulai dari satu unit sepeda motor, printer, hingga emas beserta surat-suratnya senilai Rp 3 jutaan, raib. "Semua barang-barang berharga saya tidak ada di pondok, entah dikemanakan. Yang jelas ini sudah kelewatan," kata Himatul Aliyah.
Sebagaimana diketahui Bu Nyai Himatul Aliyah merupakan istri tersangka yang juga pelapor kasus pencabulan tersebut. Perempuan inilah yang kali pertama membongkar kejahatan seksual tersangka ke polisi dan publik.
Roul Hafifah, bibi Himatul Aliyah, mengungkapkan, kedatangannya ke Ponpes Al Djaliel 2 itu untuk mengantar Bu Nyai agar bisa kembali ke pondok. Karena masih memiliki kewajiban mengasuh santriwati. "Namanya tamu ya harusnya tahu diri. Pamit atau mohon izin. Harusnya adab bertamu,” gerutunya.
Pihak keluarga FM yang masih bersikukuh hendak menempati pesantren tersebut, membuat keluarga Himatul Aliyah dan warga setempat semakin geram dengan ulah mereka. Bahkan, kubu Bu Nyai bakal melaporkan keluarga FM ke polisi. Karena selama ini mereka tidak mengantongi izin tinggal, hingga diduga membuat barang-barang berharga di pesantren raib.
"Sudah kami rapatkan bersama keluarga dan sepakat akan melaporkan keluarga Fahim ke polisi, malam ini. Mereka sudah kelewatan. Tinggal tidak izin, malah membuat barang-barang berharga di pondok hilang," ucap Syaiful Bahri, paman Himatul Aliyah.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember di pondok pesantren hingga Senin (13/2) malam, pihak keluarga FM yang masih tinggal di pondok Al Djaliel 2, seketika menutup gerbang pondok. "Tadi sudah disepakati, katanya keluarganya Bu Nyai mau merapatkan dulu," kata Hendra, Bhabinkamtibmas setempat.
Berdasarkan keterangan warga setempat, keluarga FM selama ini tinggal di pondok tersebut dan jarang berbaur bersama warga. Bahkan, urusan izin pemberitahuan tinggal juga tidak pernah dilakukan.
"Sudah tiga tahunan keluarga Fahim ini tinggal, belum pernah ada pemberitahuan ke saya," aku Syamsul, ketua RT yang tinggal persis di depan pesantren. (*)
Reporter: Maulana
Foto : Maulana
Editor : Mahrus Sholih Editor : Maulana Ijal