Setelah dirasa telah matang, nasi tiwul itu diangkat oleh perempuan itu dari kompor. Kemudian, perempuan 34 tahun tersebut meracik bumbu halus terdiri bawang merah, bawang putih, cabai rawit, garam, dan penyedap rasa.
Lalu, bumbu halus tersebut dimasukkan wajan panas berisi orak-arik telur dan sedikit minyak goreng. Setelah itu, Reni mencampurnya dengan nasi tiwul dan mengaduknya hingga benar-benar merata.
‘’Tergantung request. Mau toping apa tinggal ditambahkan. Misalnya, babat, teri, petai, pindang, dan daging ayam suwir.”ucap Reni..Sudah empat tahun terakhir Reni berjualan nasi tiwul goreng. Tidak disangka, menu tersebut laris manis.
Saat ramai, dalam sehari 30-50 porsi tiwul goreng terjual ke konsumen. Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun menyukai tiwul goreng Reni.Satu porsi tiwul goreng dijual dengan harga mulai Rp 10.000 hingga Rp 25.000, tergantung toping lauk tambahan.
Namun demikian, pembeli bisa memilih tingkat kepedasannya. ‘’Kata pembeli sih rasanya lebih gurih dibanding nasi goreng biasa,’’ jelas warga Desa Sidodadi, Kecamatan Dolopo, itu.Selama ini Reni hanya memasarkan tiwul gorengnya via media sosial dan marketplace.
‘’Saat ini baru menjangkau Madiun dan Ponorogo.”imbuh Reni.‘’Pernah ada pesanan dari Bandung dan Hong Kong, saya kirimkan tiwul instan. Tiwul matang dikeringkanCukup dicuci dan dikukus sebentar sudah bisa dikonsumsi.”pungkas Reni.
Editor:Winardyasto HariKirono
Foto:Reni Apriliana/Jawa Pos Radar Caruban
Sumber Berita:Jawa Pos Radar Madiun Editor : Yohanes Pangestu