BACA JUGA : Fokus Tingkatkan Pertanian pada 2023
“Kami juga melihat bahwa respon positif didapatkan dari audience yang sudah memiliki perspektif kesetaraan gender,” kata Qualitative Research Results LP3ES Retna Hanani.
Penelitian yang dilakukan secara kualitatif dan focus group discussion pada 7 April-24 Mei 2022 dengan 29 informan yang mewakili penyelenggara kampanye dan audiences dari organisasi pemberdayaan perempuan tersebut, juga melihat bahwa semua anak muda perkotaan yang menjadi responden menyatakan bahwa mereka mendiskusikan lebih jauh tentang norma gender di luar circle mereka.
Norma gender yang dimaksudkan adalah care giver yang merupakan persepsi bahwa perempuan sebagai pengasuh utama anak dan keluarga, breadwinner berarti persepsi bahwa laki-laki sebagai pencari nafkah utama.
Lalu, job segregation yang berarti persepsi adanya perbedaan jenis pekerjaan berdasarkan identitas gender dan leadership yang terkait dengan persepsi bahwa perempuan lebih baik sebagai peran pembantu dan laki-laki sebagai pemimpin.
“Mereka membicarakan isu-isu soal kodrat dan juga seperti di Islam ada fitrah laki-laki dan perempuan yang berbeda, di luar circle utama mereka,” ujarnya.
Kendati anak muda perkotaan turut membahas mengenai norma gender di luar lingkup pertemanan utamanya, namun para informan mengakui bahwa mereka sangat berhati-hati memilih kelompok yang akan mereka ajak berdiskusi dan memilih isu-isu yang tidak terlalu kontroversial.
Selain itu, kata Retna, semua informan menyatakan bahwa mereka merasa khawatir mendapatkan label sebagai feminis, pemberontak, tidak patuh kepada orang tua dan label buruk lainnya.
“Walaupun kita berada di tahun 2022, feminis itu tidak selalu punya implikasi positif. Kalau dianggap feminis suka dianggap nge-gas suka mendominasi pembicaraan dan itu sangat mempengaruhi citra diri orang yang ingin membicarakan kesetaraan gender,” jelasnya. (*)
Foto : ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA
Sumber : Antara Editor : Safitri