Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Halaqah Bu Nyai Inspiratif, Ungkap Sosok di Balik Eksistensi Pesantren

Maulana Ijal • Selasa, 15 November 2022 | 01:08 WIB
Photo
Photo
SURABAYA, RADARJEMBER.ID- Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, menggelar Halaqah Nasional Bu Nyai Inspiratif. Perhelatan dalam rangkaian Peringatan 100 Tahun Nahdlatul Ulama digelar di Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri pada Kamis, 17 November 2022, sekaligus Bedah Sejarah Ummahatil Ma'had (Ibu Nyai Pesantren) yang mengangkat figur Nyai Hj Rodliyah Djazuli.

Dalam Halaqah yang juga launching buku "Sejarah Ummahatil Ma'had Bu Nyai Hj Rodliyah Djazuli", menghadirkan pembicara Nyai Hj Lailatul Badriyah (putri keenam pasangan KH Ahmad Djazuli Utsman dan Nyai Hj Rodliyah Djazuli), Ida Fauziyah (Menteri Tenaga Kerja), Khofifah Indar Parawansa (Gubernur Jawa Timur), serta KH Anwar Iskandar (Wakil Rais Aam PBNU).

BACA JUGA: Sowan PWNU Jatim, Kapolda Siap Dukung Istighotsah Kubro Sejuta Umat

Dalam penyelenggaraan Halaqah Bu Nyai Inspiratif, didukung PW Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) dan PW Fatayat NU Jawa Timur, Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) NU Jawa Timur, serta sejumlah cabang Muslimat NU di kawasan Mataraman dan sekitarnya.

Nyai Rodliyah Djazuli, adalah pendamping setia KH Ahmad Djazuli Utsman, pendiri Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri. Selama hidupnya, dikenal sangat perhatian terhadap para santri dan pondok pesantren. Bukan hanya untuk urusan kebutuhan ekonomi pesantren dan para santri, Nyai Rodliyah juga rela berjualan di pasar di tengah kesibukan di pondoknya.

Bahkan, untuk urusan kesehatan para guru (ustadz) yang mengajar di pesantren menjadi perhatian serius. Nyai Rodliyah dengan kerelaan meracik obat dan membuat jamu dengan tangannya sendiri, bagi mereka yang sakit. Hal itu semata-mata dilakukan Ummahatil Ma'ahid agar proses belajar dan mengajar para santri tidak terganggu.

Nyai Rodliyah, selama bertahun-tahun mengabdikan diri untuk kepentingan para santri dan pondok pesantren, hingga akhir hayatnya pada 11 September 1996 atau bertepatan 28 Rabius Tsani 1417 H.

Selama ini, di tengah masyarakat, khususnya lingkungan NU, keberadaan ibu nyai tidak dikenal secara luas. Yang dikenal hanyalah para pengurus Muslimat NU, intelektual perempuan NU dan aktivis NU lainnya.

"Padahal, peran Bu Nyai di pondok pesantren tidaklah kecil. Saya ambil contoh, Bu Nyai Rodliyah Djazuli dan Bu Nyai Nur Khodijah binti Hasbullah, adik Kiai Wahab Hasbullah. Beliau sangat gigih mendorong para santri untuk istiqomah belajar di pesantren. Beliau banyak berperan di balik kesuksesan kiai-kiai pengasuhnya," tutur KH Abdus Salam Shohib, Ketua Panitia Peringatan 100 Tahun Nahdlatul Ulama yang diadakan PWNU Jawa Timur, Senin (14/11).

Menurut Wakil Ketua PWNU Jawa Timur ini, pihaknya ingin menunjukkan kepada generasi NU dan aktivis NU pada era sekarang agar mengambil inspirasi dari keteladanan para bu nyai di pondok pesantren.

"Keteladanan Bu Nyai dari pondok pesantren sangat kontekstual di era kini, agar kita para santri dan kaum santri, tidak kehilangan pijakan dan tetap berkarakter khusus, sebagaimana diajarkan pada masyayikh (sesepuh) dan muassis (pendiri) NU," tutur Kiai Salam, cucu salah seorang pendiri NU KH Bisri Syansuri Denanyar.

Menurutnya, di balik kesuksesan seorang kiai ada bu nyai yang berkepribadian kuat. “Bu Nyai yang menopang kebutuhan agar proses pengajaran di pondok pesantren lancar dan barokah. Itulah Bu Nyai Inspiratif," tutur kiai Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Jombang ini.

Keteladanan Masyayikh dan Bu Nyai

Dalam penyelenggaraan Halaqah Nasional Bu Nyai Inspiratif, sekaligus Bedah Sejarah Ummahatil Ma'had yang mengangkat figur Nyai Rodliyah, panitia bekerja sama dengan Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri, pada Kamis (17/11).

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, KH Abdurrochman Al-Kautsar menambahkan, ada keteladanan penting dari masyayikh Pesantren Ploso adalah istiqomah fi ibadah wa ubudiyah, istiqomah fi ta'lim wa ta'allum (istiqomah dalam ibadah dan amal kebaikan, serta istiqomah belajar dan mengajar).

"Kiai Djazuli Utsman bersemboyan 'Afdhalu thuruq ila thariqatu ta'lim wa ta'allum' (Tidak ada tarekat menuju Allah Swt yang lebih istimewa dibanding ngaji dan mengajar). Ini yang dipegang para santri dan penerusnya hingga kini," tutur Gus Kautsar, panggilan akrabnya. Sehingga dirinya mempunyai semangat tinggi dalam memperjuangkan Islam di pesantren dan NU.

Pasangan KH Ahmad Djazuli Utsman dan Nyai Hj Rodliyah dikaruniai sejumlah putra-putri yang melanjutkan perjuangannya dalam dakwah Islam dan pondok pesantren. Mereka adalah KH Ahmad Zainuddin Djazuli, KH Nurul Huda Djazuli, KH Hamim Djazuli (Gus Miek), KH Fuad Mun'im Djazuli, KH Munif Djazuli, dan Nyai Hj Badriyah Djazuli.

Kiai Ahmad Djazuli Utsman, lahir di Kediri pada 16 Mei 1900. Ia gigih berjuang melalui pondok pesantren dan NU, hingga akhir hayatnya pada 10 Januari 1976, bertepatan pada 10 Muharram 1396 H.

Halaqah Nasional Bu Nyai Inspiratif ini merupakan rangkaian Peringatan 100 Tahun atau 1 Abad Nahdlatul Ulama yang diadakan PWNU Jawa Timur. Dalam rangkaian itu, juga ada Halaqah Fikih dan Ushul Fiqh, Metode Istinbath Hukum, di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo, pada Senin 5 Desember 2022.

Selanjutnya, ada Simposium Sastra Pesantren di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang pada 2-4 Desember 2022. Gelar Halaqah Bu Nyai Inspiratif membahas peran Bu Nyai Nur Khodijah binti Hasbullah (Bu Nyai Khadijah Bisri Syansuri) di Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Jombang, pada 21 Januari 2023, serta Halaqah Tafsir Kebangsaan di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, pada Kamis 2 Februari 2023. (*) Editor : Maulana Ijal
#PWNU Jatim