Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Gempuran Budaya Asing Harus Dihadapi dengan Digitalisasi Budaya Indonesia

Maulana Ijal • Minggu, 13 November 2022 | 18:24 WIB
Petugas Dreamsea memotret Al Quran peninggalan Sultan Mangkubumi saat melakukan proses digitalisasi di Istana Mangkubumi, Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Minggu (6/11/2022). Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Balai Peles
Petugas Dreamsea memotret Al Quran peninggalan Sultan Mangkubumi saat melakukan proses digitalisasi di Istana Mangkubumi, Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Minggu (6/11/2022). Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Balai Peles
Jakarta, RADARJEMBER.ID – Tantangan budaya digital dengan menghilangnya budaya asli Indonesia yang digantikan budaya asing, disampaikan dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Muhajirin Purwakarta Dian Ikha Pramayanti.

https://radarjember.jawapos.com/internasional/13/11/2022/jungkook-bts-siap-tampil-pada-pembukaan-di-qatar/

Dian menekankan pentingnya digitalisasi budaya di Indonesia untuk menghadapi tantangan budaya digital.

"Penting sekali mendigitalisasikan budaya Indonesia," ujar Dian dalam rilis pers yang diterima di Jakarta pada Sabtu.

Hal itu disampaikannya dalam webinar Promosi Digital agar Daerah Wisata Terkenal, di Pontianak, Kalimantan Barat, yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi.

Dian menjelaskan, tantangan budaya digital di Indonesia saat ini adalah mengaburnya wawasan kebangsaan, menipisnya sopan santun, serta menghilangnya budaya asli Indonesia dan digantikan budaya asing yang masuk secara perlahan.

Tantangan tersebut, kata dia, dapat dihadapi dengan mendigitalkan budaya Indonesia.

“Digitalisasi budaya memungkinkan kita mendokumentasikan kekayaan budaya Indonesia. Selain itu, digitalisasi budaya dapat menjadi peluang untuk mewujudkan kreativitas,” katanya.

Dian menambahkan, dalam digitalisasi budaya, dibutuhkan apa yang disebut sebagai kompetensi literasi digital.

Kompetensi tersebut menyangkut bagaimana memahami budaya di ruang digital, bagaimana memproduksi budaya di ruang digital, bagaimana mendistribusikan budaya di ruang digital, serta berkolaborasi dan berpartisipasi untuk mengangkat budaya di ruang digital.

“Memproduksi konten tentang budaya di Indonesia dan membagikan konten kehidupan sehari-hari dari ragam budaya yang ada di ruang digital adalah salah satu mengenalkan potensi wisata di Indonesia agar makin dikenal dunia,” kata Dian.

Contoh keragaman budaya di Indonesia yang bisa menjadi konten di ruang digital antara lain budaya tatanan perilaku sosial, seperti di Jawa dan Bali yang masih menganut kasta.

Kemudian kekayaan bahasa di Indonesia yang begitu beragam dan unik. Adapun kekayaan baju adat, rumah adat, tari-tarian, atau lagu tradisional juga menarik menjadi bahan konten di media sosial.

“Belum lagi ritual adat yang sangat menarik diikuti dan diamati. Begitu banyak modal konten budaya di Indonesia untuk diperkenalkan ke dunia luar,” ujarnya.

Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kemenkominfo diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif.

Kegiatan ini khususnya ditujukan bagi para komunitas di wilayah Kalimantan dan sekitarnya yang tidak hanya bertujuan untuk menciptakan komunitas cerdas, tetapi juga membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0. (*)

Foto : ANTARA FOTO/Makna Zaezar/nym.

Sumber Berita : Antara Editor : Maulana Ijal
#Melek Digital #Ekonomi Digital