Pantaslah, bila Eko kemudian dinobatkan sebagai pahlawan ekonomi. RUMAH makan berukuran 7×15 meter itu terlihat ramai pengunjung apalagi saat malam minggu. Sebagian orang asyik menyantap menu yang dihidangkan.
Sebagian lagi mengantre di depan meja kasir karena pesanan akan dibawa pulang. Di dapur, para chef mengenakan celemek serbamerah sibuk meracik pesanan makanan pengunjung. Pemandangan itu terlihat di outlet Ayam Canton Soerabaja di Jalan Kedungdoro, Tegalsari.
”Kalau weekend begini lebih ramai,’’ kata Dennis Ramadhan, salah seorang kru, sambil sibuk mengantar pesanan. Outlet dibuka 27 Oktober lalu itu dihadiri langsung oleh Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.
Itu bentuk apresiasi wali kota kepada sang pemilik resto karena berhasil membuat UMKM naik kelas. Dari awal mula jualan ngemper dengan gerobak dorong hingga sekarang berhasil membuka rumah makan sendiri dan berhasil menampung sejumlah tenaga kerja.
”Apresiasi Pak Wali Kota ini jadi motivasi untuk terus lebih maju,’’ kata Eko Sulistiyo,tak lain pemilik outlet Ayam Canton Soerabaja. Tidak ada cara instan untuk menjadi maju. Sebelum menjadi seperti saat ini, Eko jatuh bangun merintis usaha kuliner.
Pada 2015, dia menjadikan garasi rumah di Jalan Wonorejo Gang 2, Tegalsari, sebagai tempat memulai usaha. Semula bernama nasi campur hongkong. Dia juga berjualan di G-Walk CitraLand. Dia berjualan di emperan dengan gerobak dorong.
Nah, salah satu menu favorit adalah ayam canton. Meski demikian, sebagian pengunjung meragukan keaslian resep Chinese food itu. Pengunjung dari kalangan menengah atas ragu mana mungkin ada menu ayam canton di warung kelas pedagang kaki lima (PKL).
Maklum, menu itu hanya biasa ditemukan di restoran hotel bintang lima. ”Sampai-sampai saya sering kasih tester. Kalau mereka cocok, saya minta beli satu ekor langsung. Begitu coba, ternyata cocok. Langsung beli dua ekor,’’ ujar Eko.
Nama nasi campur hongkong tidak bertahan lama karena dianggap tidak memasyarakat. Terutama ke segmen menengah ke bawah. Padahal, mereka adalah konsumen paling besar. Maka, pada 2017 Eko terpaksa mengganti merek dagangnya menjadi Ayam Canton Soerabaja. (*)
Editor:Winardyasto HariKirono
Foto:Frizal/ Jawa Pos
Sumber Berita:jawapos.com Editor : Maulana Ijal