BACA JUGA : Tiga Anak di Riau Dapat Bantuan Pengobatan dari Menteri Sosial
Glimbang-glimbung. Hanya itu aktivitas dilakukan Gilang Putra Yuliansyah setiap malam tiba. Saat lain terlelap, dia justru terjaga. Dia merasa masih mendengar teriakan minta tolong. Dia dihantui momen-momen mengerikan saat korban terinjak-injak
Segar dalam ingatan Gilang saat dia melewati tumpukan jenazah. Bayangan itu datang setiap malam. ’’Setiap mau tidur pasti ndredek. Makanya, kalau malam saya susah tidur. Saya baru bisa tidur kalau minum obat pemberian dokter,’’ kata Gilang saat ditemui Jawa Pos.
Pria beralamatkan di kawasan Pakisaji, Kabupaten Malang itu menerangkan, Memori kelam itu berasal dari insiden Kanjuruhan (1/10). Dia ingat betul saat senapan polisi meletup. Gas air mata melayang tepat di atas kepala pria tersebut.
Pemuda 19 tahun itu berada di tribun berdiri gate 12. Dari atas, asap langsung mengepul. Tiba-tiba, bruk! ’’Suporter dari tribun atas berjatuhan ke bawah,’’ kenang Gilang. Ia panik. Dia berusaha kabur.
Tapi, matanya terasa perih. Pandangannya tidak jelas. Dia langsung pingsan. ’’Pas sadar, saya sudah pakai oksigen di ruang VIP. Badan basah semua,’’ ungkap dia. Matanya masih merah. Tapi, Gilang langsung bangun.
Dia wira-wiri mencari kakak sepupunya, M. Ubaidillah. Dia melihat ada banyak jenazah ditumpuk. Disambati teriakan minta tolong. Beberapa rumah sakit dia datangi. ’’Ternyata kakak sudah meninggal. Jenazahnya ketemu di Rumah Sakit Wava Husada,’’ tutur Gilang.
Momen mencari sepupunya itulah selalu muncul setiap malam. Sang ayah, Bambang Siswanto, sampai bingung. ’’Sampai kapan anakku bergantung sama obat tidur terus?’’ keluh Bambang. Sebab, obat tidur juga dianggap kurang efektif.
’’Kadang baru tidur tiga jam, sudah bangun lagi. Habis itu susah tidur lagi,’’ tambah pria itu. Bambang kini lebih banyak begadang menemani buah hatinya. Apalagi, kondisi Gilang masih lemah. Pascainsiden, dia memang sempat dirawat lima hari di RSUD Saiful Anwar.
Mendapat perawatan intens. Mulai mata sampai rontgen paru-paru. Tapi, ada satu yang terlewat. ’’Pas pulang, pinggulnya hitam. Kalau dipakai aktivitas sakit,’’ kata Bambang. Dia tidak berani membawa Gilang kembali ke rumah sakit.
Sebab, ada beberapa korban yang cover biayanya ruwet. Infonya, sudah tidak ditanggung kalau pasien sudah pulang ke rumah. Bambang akhirnya membawa Gilang ke sangkal putung. ’’Sudah tiga kali terapi. Alhamdulillah sudah agak baikan,’’ sambung Gilang.
Pinggul boleh membaik, tapi tidak begitu dengan kondisi mata. ’’Mata saya sebelah kiri sekarang rabun, Mas,’’ kata Gilang. Dia hanya mengandalkan obat tetes mata dari rumah sakit. ’’Saya teteskan setiap 12 jam sekali,’’ lanjut Gilang.
Obatnya sudah hampir habis. Tidak ada cover biaya lagi. Sampai saat ini Gilang tidak pernah berobat ke spesialis mata. Gilang hanya bisa pasrah. Dia masih ingat ucapan dokter RSUD Saiful Anwar yang merawatnya.
’’Dokter tanya, ini gas apa kok matanya seperti mau copot? Kalau gas air mata nggak mungkin seperti ini,’’ kata Gilang menirukan ucapan sang dokter. Sulung tiga bersaudara itu, pernah merasakan efek gas air mata. Saat Arema FC melawan Persib Bandung pada musim 2018.
’’Dulu saya cukup tutup mulut dan hidung pakai tangan aja sudah cukup. Yang kemarin nggak. Rasanya pedas dan perih. Bahkan sampai ke tenggorokan,’’ ucap pria itu dan bekerja sebagai salah satu penjaga pemandian di Pakisaji itu. (*)
Editor:Winardyasto HariKirono
Foto:Alfian Rizal/Jawa Pos
Sumber Berita:jawapos.com
Editor : Safitri